REVITALISASI MAKNA SURAH AL-MA’UN: TELAAH KONTEKSTUAL ASBABUN NUZUL DAN KORELASINYA TERHADAP KEADILAN SOSIAL
Kata Kunci:
Asbabun Nuzul, Keadaan Sosial, Al-Ma’unAbstrak
Menelaah makna surah Al-ma’un dan korelasinya terhadap keadilan sosial kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk merevitalisasi kembali makna teologis dan sosial surah Al-ma’un dan menafsirkannya dalam konteks isu keadilan sosial, khususnya di Indonesia. Surah Al-Maun termasuk surah pendek yang dengan eksplisit mengancam celaka bagi orang-orang yang salat, namun mereka lalai dan riya’ serta enggan untuk menolong anak yatim. Hal ini menegaskan bahwa kesalehan ritual (hablum minallah) tidak boleh dilepaskan dari kesalehan sosial (hablum minannas). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan utama analisis teks (kajian Pustaka) dan tafsir tematik (Maudhui) atau kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa definisi pendusta agama dalam surah Al- Ma’un tidak berpusat pada penginkaran terhadap hari akhir, tetapi pengingkaran prakrik melalui kezaliman dan ketidakpedualian sosial yang diwujudkan melalui perilaku menghardik anak yatim dan enggan memberi bantuan adalah wujud nyata melakukan kezaliman. Secara kontekstual, pesan dalam surah Al-ma’un ini sangat relevan dengan isu keadilan sosial modern. Penelitian menyimpulkan bahwa koruptor dan pelaku eksploitasi tenaga kerja dapat dikategorikan sebagai pendusta agama kontemporer. Perilaku mereka yang bukan hanya enggan menolong, melainkan merampas hak publik dan akar dari pelaku yang menciptakan kemiskinan. Yang menjadikan ibadah ritual mereka (shalat) kosong, riya’, dan celaka karena tidak berdampak pada pencegahan keji dan mungkar. Secara keseluruhan, surah Al-Ma’un berfungsi sebagai landasan teologis yang mewajibkan umat beragama untuk menerjemahkan keimanan seseorang menjadi aksi nyata keadilan dan kepedulian sosial, dan menjadi landasan etika masyarakat dalam mewujudkan keadilan.




