HUBUNGAN DUKUNGAN TEMAN SEBAYA DENGAN TINGKAT KESEHATAN MENTAL PADA REMAJA DI SMK KESEHATAN DWI PUTRI HUSADA BOGOR
Kata Kunci:
Dukungan Teman Sebaya, Kesehatan Mental, RemajaAbstrak
Masa remaja merupakan periode perkembangan yang rentan terhadap perubahan fisik, psikologis, dan sosial sehingga berisiko mengalami gangguan kesehatan mental. Dukungan teman sebaya merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan tingkat kesehatan mental remaja. Namun, penelitian mengenai hubungan dukungan teman sebaya dengan tingkat kesehatan mental pada siswa SMK Kesehatan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dukungan teman sebaya dengan tingkat kesehatan mental pada remaja di SMK Kesehatan Dwi Putri Husada Bogor. Metode penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 97 responden yang dipilih menggunakan simple random sampling. Kriteria inklusi meliputi siswa aktif kelas XI berusia 16–17 tahun. .Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Peer Support Questionnaire untuk mengukur dukungan teman sebaya dan Self Reporting Questionnaire-20 (SRQ-20) untuk mengukur tingkat kesehatan mental. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil Analisis Bivariat menunjukkan nilai p – value = 0,002 (p < 0,05), sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan teman sebaya dengan tingkat kesehatan mental. Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan sosial dari teman sebaya memiliki peran penting dalam membantu remaja menghadapi berbagai tantangan psikologis serta mendukung kesejahteraan mental di lingkungan sekolah.
Adolescence is a developmental period that is vulnerable to physical, psychological, and social changes, putting adolescents at risk for mental health disorders. Peer support is one of the factors associated with adolescents’ mental health. However, research on the relationship between peer support and mental health among students at the Dwi Putri Husada Health Vocational High School in Bogor remains limited. This study aims to analyze the relationship between peer support and mental health levels among adolescents at Dwi Putri Husada Health Vocational High School in Bogor. The research method employed a quantitative design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 97 respondents selected using simple random sampling. Inclusion criteria included active 11th-grade students aged 16–17 years who were willing to participate by signing an informed consent form. The instruments used were the Peer Support Questionnaire to measure peer support and the Self-Reporting Questionnaire-20 (SRQ-20) to measure mental health levels. Data analysis used the Spearman Rank test. The results of the bivariate analysis showed a p-value of 0.002 (p < 0.05), indicating a significant association between peer support and mental health status Adolescents who receive higher levels of peer support tend to have better mental health. Conclusion: Peer support is associated with adolescents’ mental health levels and is an aspec.




