KAJIAN STILISTIKA PUISI “BALLADA PENANTIAN” KARYA W.S. RENDRA
Kata Kunci:
Stilistika, Puisi, Diksi, Gaya Bahasa, Citraan, W.S. RendraAbstrak
W.S. Rendra dengan menggunakan pendekatan stilistika Herman J. Waluyo. Pendekatan stilistika digunakan untuk mengungkap bagaimana unsur-unsur kebahasaan dimanfaatkan penyair dalam membangun keindahan sekaligus makna penantian sebagai pengalaman batin. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik analisis Steks. Data penelitian berupa kata, frasa, larik, dan bait puisi yang mengandung unsur stilistika. Analisis difokuskan pada tiga unsur utama stilistika, yaitu diksi, gaya bahasa, dan citraan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diksi dalam puisi “Ballada Penantian” bersifat konotatif dan emosional sehingga mampu membangun suasana penantian yang hening, menekan, dan berlarut-larut. Gaya bahasa, khususnya metafora, digunakan secara simbolik untuk menyampaikan pengalaman batin tokoh lirik secara tidak langsung serta memperkuat daya sugesti puisi. Sementara itu, citraan berperan mengonkretkan perasaan abstrak melalui pengalaman indrawi, sehingga pembaca dapat merasakan suasana penantian secara lebih hidup dan mendalam. Keterpaduan antara diksi, gaya bahasa, dan citraan menunjukkan bahwa bahasa puisi berfungsi sebagai medium utama dalam membangun makna dan keindahan karya sastra. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa teori stilistika Herman J. Waluyo relevan dan efektif digunakan untuk mengungkap hubungan antara pilihan bahasa, pengalaman batin, dan makna dalam puisi karya W.S. Rendra.
This study aims to examine the use of language in the poem “Ballada Penantian” by W.S. Rendra using Herman J. Waluyo’s stylistic approach. The stylistic approach is employed to reveal how linguistic elements are utilized by the poet in constructing both aesthetic value and the meaning of waiting as an inner experience. The research method used is descriptive qualitative with a text analysis technique. The research data consist of words, phrases, lines, and stanzas of the poem that contain stylistic elements. The analysis focuses on three main stylistic elements, namely diction, figurative language, and imagery. The results show that the diction in the poem “Ballada Penantian” is connotative and emotional, enabling the creation of an atmosphere of waiting that is silent, oppressive, and prolonged. Figurative language, particularly metaphor, is used symbolically to convey the inner experience of the lyrical subject indirectly and to strengthen the poem’s suggestive power. Meanwhile, imagery plays a role in concretizing abstract feelings through sensory experiences, allowing readers to perceive the atmosphere of waiting more vividly and deeply. The integration of diction, figurative language, and imagery indicates that poetic language functions as the main medium in constructing meaning and aesthetic value in literary works. Thus, this study confirms that Herman J. Waluyo’s stylistic theory is relevant and effective in revealing the relationship between language choice, inner experience, and meaning in W.S. Rendra’s poetry.




