PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA INDONESIA DI ERA GLOBALISASI: TANTANGAN DAN STRATEGI
Kata Kunci:
Pengembangan Bahasa, Pembinaan Bahasa, Sikap Bahasa, Globalisasi, Bahasa IndonesiaAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia di era globalisasi, khususnya dalam melihat kesenjangan antara ketersediaan instrumen kebahasaan dan praktik penggunaannya di masyarakat. Globalisasi dan digitalisasi komunikasi telah mendorong maraknya penggunaan istilah asing serta praktik pencampuran kode dalam berbagai ranah, seperti media sosial, dunia kerja, dan kehidupan akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi kebahasaan nonpartisipatif terhadap penggunaan bahasa di ruang publik digital, media daring, dokumen akademik ringan, serta komunikasi semi-formal. Analisis data didasarkan pada kerangka kebijakan bahasa nasional Anton M. Moeliono yang membedakan antara pengembangan bahasa dan pembinaan bahasa, serta didukung oleh teori sikap bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sisi pengembangan, bahasa Indonesia telah memiliki padanan istilah yang memadai sebagaimana tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun, dari sisi pembinaan, sikap bahasa masyarakat masih belum optimal, ditandai dengan rendahnya kesetiaan dan kebanggaan terhadap penggunaan padanan bahasa Indonesia. Keberhasilan pembinaan bahasa terlihat lebih stabil pada ranah media massa dan akademik dibandingkan ranah media sosial dan gaya hidup. Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan bahasa perlu diimbangi dengan strategi pembinaan yang adaptif dan kontekstual agar bahasa Indonesia tetap berwibawa di tengah arus globalisasi.
This study aims to examine the development and cultivation of the Indonesian language in the era of globalization, particularly by identifying the gap between the availability of linguistic instruments and their actual use in society. Globalization and the digitalization of communication have intensified the use of foreign terms and code-mixing practices across various domains, including social media, the workplace, and academic settings. This research employs a qualitative descriptive approach using non-participatory linguistic observation of language use in digital public spaces, online media, light academic documents, and semi-formal communication. Data analysis is based on Anton M. Moeliono’s framework of national language policy, which distinguishes between language development and language cultivation, and is supported by language attitude theory. The findings indicate that, in terms of development, the Indonesian language has adequate equivalent terms as documented in the Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). However, from the perspective of language cultivation, public language attitudes remain suboptimal, as reflected in the low levels of loyalty and pride in using Indonesian equivalents. The success of language cultivation is more evident in mass media and academic domains than in social media and lifestyle-related contexts. These findings emphasize that language development must be accompanied by adaptive and contextual language cultivation strategies to ensure that Indonesian maintains its authority amid globalization.




