FENOMENA STAN CULTURE K-POP DI PEKANBARU DAN RADIKALISME DALAM PERSPEKTIF PANCASILA
Kata Kunci:
Stan Culture, K-Pop, Fanatisme, Radikalisasi, PancasilaAbstrak
Penelitian ini mengkaji fenomena stan culture K-pop di kalangan generasi muda Pekanbaru dalam perspektif Pancasila, mengingat kesamaan struktural antara fanatisme penggemar dan radikalisasi ideologis. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi faktor penyebab fanatisme K-pop dan menganalisisnya dalam kerangka nilai Pancasila untuk membedakan fanatisme konstruktif dan destruktif. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan sepuluh key informan (tujuh penggemar aktif, dua admin komunitas, dan satu mantan komunitas), observasi partisipatif, dan dokumentasi selama Oktober-Desember 2025. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil menunjukkan empat faktor penyebab fanatisme: keterikatan emosional dengan idol melalui parasocial relantionship, pembentukan identitas kelompok dalam fandom, perluasan hubungan sosial berdasarkan kesamaan minat , dan inspirasi positif dari idol. Perbandingan dengan radikalisme menunjukkan kesamaan mekanisme psikologis seperti proses prekrutan, pembentukan identitas in-group dan out-group, normalisasi perilaku agresif, dan loyalitas tinggi, meskipun berbeda dalam konteks dan konsekuensi. Analisis melalui lima sila Pancasila membuktikan fanatisme K-pop di Pekanbaru mayoritas bersifat konstruktif, dengan literasi digital, kapasitas menerima kritik, solidaritas sosial, dan pemahaman nilai Pancasila sebagai faktor protektif mencegah fanatisme ekstrem. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pancasila efektif sebagai kerangka normatif membedakan fanatisme konstruktif dan destruktif, dengan implikasi penting bagi pendidikan karakter dan startegi pencegahan radikalisasi di Indonesia.
This research examines the phenomenon of K-pop stan culture among Pekanbaru's younger generation from a Pancasila perspective, considering the structural similarities between fan fanaticism and ideological radicalization. The research aims to identify factors causing K-pop fanaticism and analyze them within the framework of Pancasila values to distinguish between constructive and destructive fanaticism. Using a phenomenological approach with qualitative descriptive methods, data were collected through in-depth interviews with ten key informants (seven active fans, two community administrators, and one former member), participatory observation, and documentation during October-December 2025. Data analysis employed the Miles, Huberman, and Saldana model with stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Results reveal four main factors causing fanaticism: emotional attachment to idols through parasocial relationships, group identity formation within fandoms, expansion of social relationships based on shared interests, and positive inspiration from idols. Comparison with radicalization shows similarities in psychological mechanisms such as recruitment processes, formation of in-group and out-group identities, normalization of aggressive behavior, and high loyalty, despite differences in context and consequences. Analysis through the five principles of Pancasila proves that K-pop fanaticism in Pekanbaru is predominantly constructive, with digital literacy, capacity to accept criticism, social solidarity, and understanding of Pancasila values as protective factors preventing extreme fanaticism. The research concludes that Pancasila is effective as a normative framework for distinguishing constructive and destructive fanaticism, with important implications for character education and radicalization prevention strategies in Indonesia.




