MENGALI MAKNA WOTIK WAWI WATEN DALAM MORAL DAN ETIKA PERKAWINAN MASYARAKAT DESA BAOMEKOT KAB.SIKKA
Kata Kunci:
Wotik Wawi Waten, Moral, Etika, Perkawinan AdatAbstrak
Ritual Wotik Wawi Waten adalah ritual penyuapan hati babi yang bertujuan untuk mengukuhkan status perkawinan sesuai dengan hukum adat perkawinan yang telah ditetapkan, sekaligus menanamkan nilai luhur kepada pengantin sehingga menuju rumah tangga yang harmonis.Tujuan dari penelitian ini: (1) Untuk mendeskripsikan proses ritual wotik wawi waten pada masyarakat Desa baomekot Kabupaten Sikka (2) untuk mendeskripsikan makna ritual worik wawi waten sebagai petunjuk moral dan etika bagi masyarakat Desa Baomekot Kabupaten Sikka (3) Untuk mengetahui alasan dan faktor yang menyebabkan ritual Wotik Wawi Waten masih dipertahankan sebagai bagian penting dalam kehidupan perkawinan masyarakat Desa Baomekot hingga saat ini. Metode Deskriptif Kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi. Berdasarkan peneitian yang dilakukan ditemukan bahwa proses ritual wotik wawi waten terjadi dalam 3 tahap yaitu, tahap Loka Pare Hoban, tahap Ole Robak Wawi, dan tahap Wotik Wawi Wuten. Dalam kehidupan kermasyarakat ritual ini dikatakan sebagai bentuk tindakan yang melibatkan nilai religious, nilai sosial dan nilai moral. Ritual ini mencerminkan sistem sosial budaya yang berfungsi sebagai petunjuk moral dan etika bagi masyarakat Sikka dalam menata pola perilaku. Disi lain ritual ini tidak. hanya upacara sakral, tetapi sebagai landasan bagi pembentukan masyarakat yang bermoral. Simbol atau alat-alat yang menentukan etika dan moral dalam ritual yakni ole, wawi waten, dan wawi waten. Melalui tindakan simbolis dalarm ritual ini menyatakan bahwa kesediaan kedua pengantin untuk menjalin hubungan yang kuat dan berkelanjutan.
The Wotik Wawi Waten ritual is a traditional ritual involving the feeding of a pig’s heart, which aims to legitimize marital status in accordance with established customary marriage laws, while also instilling noble values in the bride and groom so that they may build a harmonious household.The objectives of this study are: (1) to describe the process of the Wotik Wawi Waten ritual among the people of Baomekot Village, Sikka Regency; (2) to describe the meaning of the Wotik Wawi Waten ritual as a moral and ethical guide for the community of Baomekot Village, Sikka Regency; and (3) to identify the reasons and factors that cause the Wotik Wawi Waten ritual to continue to be maintained as an important part of marital life in the Baomekot Village community up to the present day. This research employs a descriptive qualitative method, with data collection techniques including interviews and observation. The findings indicate that the Wotik Wawi Waten ritual consists of three stages, namely the Loka Pare Hoban stage, the Ole Robak Wawi stage, and the Wotik Wawi Waten stage. In community life, this ritual is regarded as a form of action that involves religious, social, and moral values. The ritual reflects a socio-cultural system that functions as a moral and ethical guideline for the Sikka community in shaping patterns of behavior. On the other hand, this ritual is not merely a sacred ceremony, but also serves as a foundation for the formation of a moral society. The symbols or ritual objects that determine ethics and morality in the ritual include ole, wawi waten, and wawi waten. Through the symbolic actions in this ritual, the willingness of both bride and groom to establish a strong and enduring relationship is expressed.




