SURVEI PERSENTASE OTOT DAN KADAR AIR BERDASARKAN JENIS KELAMIN PADA MAHASISWA DEPARTEMEN ILMU KEOLAHRAGAAN KELAS A ANGKATAN 2022

Penulis

  • Ahmad Raihan Firmansyah Universitas Negeri Malang
  • Olivia Andiana Universitas Negeri Malang

Kata Kunci:

Komposisi Tubuh, Persentase Otot, Kadar Air Tubuh, Jenis Kelamin, Bioelectrical Impedance Analysis (BIA)

Abstrak

Penelitian ini mengkaji perbedaan persentase otot dan kadar air tubuh berdasarkan jenis kelamin pada mahasiswa Departemen Ilmu Keolahragaan Kelas A Angkatan 2022 Universitas Negeri Malang. Komposisi tubuh dipandang sebagai aspek fisiologis yang berperan penting dalam mendukung kesehatan, kemampuan menghasilkan gaya, serta efektivitas kinerja fisik dalam konteks ilmu keolahragaan. Persentase otot dan kadar air dipilih sebagai indikator utama karena keduanya berkaitan dengan kapasitas kekuatan, daya tahan, metabolisme energi, serta keseimbangan cairan tubuh yang menunjang performa dan pencegahan cedera. Dengan demikian, penelitian ini diarahkan untuk memberikan gambaran kuantitatif mengenai perbedaan komposisi tubuh antarjenis kelamin pada populasi mahasiswa yang memiliki tuntutan aktivitas fisik relatif tinggi. Hasil yang diperoleh diharapkan mampu menjadi dasar ilmiah dalam pengembangan program latihan dan strategi hidrasi yang lebih terarah sesuai karakteristik fisiologis masing-masing jenis kelamin. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif komparatif dan desain cross-sectional untuk membandingkan dua kelompok independen, yaitu mahasiswa laki-laki dan perempuan pada satu waktu pengukuran. Sampel terdiri dari 35 mahasiswa Departemen Ilmu Keolahragaan Kelas A Angkatan 2022, dengan 27 laki-laki dan 8 perempuan yang dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan kriteria usia 18–25 tahun dan aktif secara akademik. Variabel bebas adalah jenis kelamin, sedangkan variabel terikat meliputi persentase otot (%) dan kadar air tubuh (%). Pengukuran komposisi tubuh dilakukan menggunakan metode Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) dengan alat Beurer BF 100 sebagai instrumen non-invasif yang mampu mengestimasi persentase otot dan kadar air secara simultan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas Levene, analisis deskriptif, dan uji-t independen untuk menguji perbedaan antar kelompok. Hasil deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata persentase otot mahasiswa laki-laki sebesar 42,2% dengan kadar air rata-rata 56,6%, sedangkan pada perempuan rata-rata persentase otot sebesar 34,6% dengan kadar air 48,8%. Distribusi kategori mengindikasikan bahwa sebagian besar laki-laki berada pada kategori persentase otot “Normal” dengan 51,9% responden, sedangkan 48,1% berada pada kategori “Rendah” dan tidak ada yang mencapai kategori “Tinggi”. Pada kelompok perempuan, 75% responden berada pada kategori “Normal” dan 25% pada kategori “Rendah” tanpa adanya kategori “Tinggi”. Untuk kadar air tubuh, 85,2% laki-laki termasuk kategori “Baik”, dengan 11,1% kategori “Buruk” dan 3,7% kategori “Sangat Baik”. Sementara itu, pada kelompok perempuan 75% berada pada kategori “Baik” dan 25% pada kategori “Buruk”, tanpa responden yang mencapai kategori “Sangat Baik”. Uji prasyarat memperlihatkan bahwa data persentase otot dan kadar air tubuh pada kedua kelompok berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen, sehingga memenuhi asumsi untuk dilakukan uji beda parametrik. Uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan nilai signifikansi > 0,05 untuk seluruh variabel, sedangkan uji homogenitas Levene juga menghasilkan nilai signifikansi > 0,05, menandakan keseragaman varians antar kelompok. Uji-t independen kemudian digunakan untuk menguji perbedaan persentase otot dan kadar air berdasarkan jenis kelamin. Hasil pengujian menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 untuk variabel persentase otot dan 0,005 untuk kadar air tubuh, keduanya < 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa laki-laki dan perempuan pada kedua indikator komposisi tubuh yang diukur. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori fisiologi dan kajian pustaka yang menjelaskan bahwa laki-laki umumnya memiliki persentase otot dan kadar air tubuh lebih tinggi dibanding perempuan, terutama karena pengaruh hormonal dan proporsi massa bebas lemak yang lebih besar. Otot rangka sebagai jaringan kontraktil utama menyumbang porsi besar terhadap massa tubuh dan berperan penting dalam produksi gaya, postur, serta metabolisme basal, sehingga perbedaan persentase otot akan tercermin pada kapasitas fungsional dan kinerja fisik. Di sisi lain, kadar air tubuh sangat berkaitan dengan distribusi cairan intraseluler dan ekstraseluler, di mana jaringan otot mengandung air lebih banyak daripada jaringan lemak sehingga jenis kelamin dengan proporsi otot lebih tinggi cenderung memiliki kadar air lebih besar. Hasil penelitian ini juga memperkuat temuan studi terdahulu yang menegaskan bahwa pengabaian perbedaan komposisi tubuh berdasarkan jenis kelamin dalam perencanaan latihan dan strategi hidrasi dapat mengurangi efektivitas program dan meningkatkan risiko gangguan fisiologis. Oleh karena itu, persentase otot dan kadar air tubuh perlu dipertimbangkan sebagai indikator fisiologis penting dalam perancangan program latihan yang lebih spesifik dan adaptif.

This study examines the differences in muscle percentage and body water content based on gender among students of the Department of Sports Science, Class A, Cohort 2022 at Universitas Negeri Malang. Body composition is viewed as a physiological aspect that plays an important role in supporting health, force production capacity, and physical performance effectiveness in the context of sports science. Muscle percentage and body water content were selected as key indicators because both are related to strength capacity, endurance, energy metabolism, and fluid balance, which support performance and injury prevention. Therefore, this research aims to provide a quantitative overview of body composition differences between genders in a student population with relatively high physical activity demands. The findings are expected to serve as a scientific basis for developing more targeted training programs and hydration strategies according to the physiological characteristics of each gender. The research employed a quantitative approach with a descriptive-comparative design and a cross-sectional method to compare two independent groups male and female students at a single time of measurement. The sample consisted of 35 students from the Department of Sports Science, Class A, Cohort 2022, including 27 males and 8 females selected using purposive sampling based on the criteria of being 18–25 years old and academically active. The independent variable was gender, while the dependent variables included muscle percentage (%) and body water percentage (%). Body composition was measured using the Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) method with a Beurer BF 100 device, a non-invasive instrument capable of simultaneously estimating muscle and water percentages. The collected data were analyzed using the Shapiro-Wilk normality test, Levene’s homogeneity test, descriptive analysis, and independent t-test to examine differences between groups. Descriptive results showed that the average muscle percentage among male students was 42.2% with an average body water content of 56.6%, whereas females had an average muscle percentage of 34.6% and body water content of 48.8%. The category distribution indicated that most males (51.9%) fell into the “Normal” muscle percentage category, while 48.1% were in the “Low” category, with none in the “High” category. Among females, 75% were categorized as “Normal” and 25% as “Low,” with no “High” category observed. For body water content, 85.2% of males were categorized as “Good,” 11.1% as “Poor,” and 3.7% as “Very Good.” In contrast, 75% of females were categorized as “Good” and 25% as “Poor,” with no “Very Good” category recorded. Preliminary tests indicated that both muscle percentage and body water data were normally distributed and showed homogeneous variances, fulfilling the assumptions for parametric testing. The Shapiro–Wilk normality test produced significance values greater than 0.05 for all variables, while the Levene’s test also yielded significance values above 0.05, demonstrating variance equality between groups. Independent t-tests were then conducted to examine gender differences in muscle percentage and body water content. The results revealed significance values of 0.000 for muscle percentage and 0.005 for body water content both less than 0.05. Thus, it can be concluded that there are significant differences between male and female students in both measured indicators of body composition. These findings align with physiological theory and previous literature, which state that males generally have higher muscle mass and body water content than females, primarily due to hormonal influences and greater fat-free mass proportions. Skeletal muscle, as the main contractile tissue, contributes significantly to body mass and plays an essential role in force generation, posture, and basal metabolism, so differences in muscle percentage reflect variations in functional capacity and physical performance. Meanwhile, body water content is closely related to the distribution of intracellular and extracellular fluids, where muscle tissue contains more water than fat tissue, meaning that genders with greater muscle proportions tend to have higher body water levels. This study reinforces previous research findings that neglecting gender-based differences in body composition when designing training and hydration strategies can reduce program effectiveness and increase the risk of physiological imbalances. Therefore, muscle percentage and body water content should be considered important physiological indicators in designing more specific and adaptive training programs.

Unduhan

Diterbitkan

2026-02-28