PRAKSIS BAHASA MANGGARAI DALAM INTERAKSI SOSIAL MAHASISWA SOSIOLOGI UNIVERSITAS NUSA CENDANA
Kata Kunci:
Praksis Bahasa, Identitas Sosial, Bahasa Daerah, Interaksi Sosial, Mahasiswa ManggaraiAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praksis penggunaan Bahasa Manggarai serta dampaknya dalam interaksi sosial mahasiswa Manggarai di Program Studi Sosiologi Universitas Nusa Cendana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam yang dilaksanakan pada periode September 2024 hingga November 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bahasa Manggarai digunakan secara konsisten dalam interaksi informal dan berfungsi tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol identitas sosial, solidaritas kelompok, dan kedekatan emosional. Penggunaan bahasa tersebut dipengaruhi oleh faktor kebiasaan, kenyamanan, spontanitas, dan kedudukannya sebagai bahasa ibu yang telah terinternalisasi sejak masa kanak-kanak. Di sisi lain, dominasi penggunaan Bahasa Manggarai berdampak pada kemampuan komunikasi formal mahasiswa dalam Bahasa Indonesia, seperti munculnya kesulitan dan kurang means kepercayaan diri dalam situasi akademik. Selain itu, penggunaan Bahasa Manggarai memperkuat kohesi kelompok internal, tetapi juga dapat menciptakan batas sosial dalam interaksi multietnis, seperti kesalahpahaman atau berkurangnya partisipasi mahasiswa non-Manggarai. Namun demikian, bahasa tersebut juga menumbuhkan ketertarikan budaya di kalangan mahasiswa lain. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Bahasa Manggarai berperan penting sebagai simbol identitas sosial sekaligus memengaruhi dinamika interaksi sosial mahasiswa di lingkungan kampus multikultural.
This study aims to analyze the praxis of Manggarai language use and its impact on the social interaction of Manggarai students in the Sociology Study Program at Nusa Cendana University. This research employed a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected through field observations and in-depth interviews conducted between September 2024 and November 2025. The findings show that the Manggarai language is consistently used in informal interactions and functions not only as a communication tool but also as a symbol of social identity, group solidarity, and emotional closeness. Its use is influenced by habit, comfort, spontaneity, and its position as a mother tongue internalized since childhood. However, the dominant use of the Manggarai language affects students’ formal communication skills in Indonesian, including difficulties and lack of confidence in academic situations. Additionally, while the language strengthens internal group cohesion, it can also create social boundaries in multiethnic interactions, such as misunderstandings or reduced participation from non-Manggarai students. Nevertheless, it also fosters cultural interest among other students. This study concludes that the Manggarai language plays an important role as a symbol of social identity and influences the dynamics of social interaction within a multicultural campus environment.




