NILAI GUNA PEMUKIMAN KUMUH GAMPONG JAWA KOTA BANDA ACEH MELALUI KAJIAN ARSITEKTUR

Penulis

  • Teuku Firja Hidayatullah Universitas Malikussaleh
  • Deni Universitas Malikussaleh
  • Sisca Universitas Malikussaleh

Abstrak

Permasalahan pemukiman kumuh selalu di pandang sebagai wilayah yang tidak layak huni dengan kondisi fisik yang buruk. Tapi pada kenyataannya kawasan ini selalu di minati dan bahkan  hampir di dapati  seluruh Ibu Kota Provinsi yang ada di Indonesia .  Kota Banda Aceh Sebagai Ibu kota privinsi Aceh juga  belum selesai dengan permasalahan ini. Banyak dari masyarakat yang berpindah ke Ibu Kota dengan tujuan untuk meningkatkan kondisi sosial ekonomi, namun keterbatasan finansial mendorong mereke bermukim pada pemukiman kumuh karena tidak bisa mengakses hunian formal. Hal tersebut sesuai dengan Teori Tunner yang menjelaskan 3 karakteristik prilaku Masyarakat Perkotaan dalam memilih tempat tinggal yaitu bridgeheaders, consolidators dan status seekers .Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)  pemukiman kumuh mempunyai nilai guna yang tinggi karena mampu menyediakan akses terhadap sumber penghidupan walaupun secara fisik tidak layak untuk di huni. Oleh karena itu perlu kepada kajian bedasarkan nilai guna dalam memahami ruang yang terbentuk, difungsikan dan berfungsi yang bertujuan untuk menjelaskan bagaimana ruang hunian mampu menghasilkan nilai guna serta nilai tukar bagi penghuninya yang sesuai dengan kapasitas mereka dalam mengolah dan memanfaatkan hunian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksploratif, pengambilan sampel secara purposive sampling yang di lakukan pada Dusun Tgk Muda, untuk mendapat informasi mendalam tentang bagaimana karakteristik masyarakat bertinggal pada pemukiman kumuh yang ber-orientasi pada pemanfaatan ruang . Bedasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan nilai guna yang tinggi pada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dalam memanfaatkan hunian bertinggal pada Dusun Tgk Muda yang tergolong kepada bridgeheaders dan consolidators.

The problem of slum settlements is always seen as uninhabitable areas with poor physical conditions. But in reality, this area is always in demand and is even found in almost all provincial capitals in Indonesia. Banda Aceh City as the capital of Aceh province is also not resolved with this problem. Many people move to the capital with the aim of improving socio-economic conditions, but financial limitations drive them to settle in slums because they cannot access formal housing. This is in accordance with Turner's Theory which explains 3 characteristics of urban community behavior in choosing a place to live: bridgeheaders, consolidators and status seekers. For Low-Income Communities (MBR), slum settlements have high utility value because they are able to provide access to livelihoods even though they are physically unfit for habitation. Therefore, it is necessary to study based on utility value in understanding the space that is formed, functioned and functioning, which aims to explain how residential space is able to produce utility value and exchange value for its residents according to their capacity to process and utilize the residence. This study uses a qualitative method with an exploratory approach, purposive sampling was carried out in Tgk Muda Hamlet, to obtain in-depth information about the characteristics of people living in slum settlements that are oriented towards space utilization. Based on the results of the study, it shows that high utility values were found in Low-Income Communities (MBR) in utilizing residential housing in Tgk Muda Hamlet which is classified as bridgeheaders and consolidators.

Unduhan

Diterbitkan

2026-04-08