KAMPUNG SIAGA BENCANA AMARASI: STRATEGI PENGURANGAN RISIKO BENCANA BERBASIS KEARIFAN LOKAL MAMAR DI KABUPATEN KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR
Kata Kunci:
Kampung Siaga Bencana, Kearifan Lokal Mamar, Manajemen Risiko Bencana, Kekeringan, AmarasiAbstrak
Wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk Kecamatan Amarasi di Kabupaten Kupang, merupakan salah satu kawasan paling rentan terhadap bencana hidrometeorologi di Indonesia, dengan karakter kekeringan musiman yang kronis sekaligus ancaman siklon tropis yang bersifat tiba-tiba, sebagaimana terlihat pada peristiwa Siklon Tropis Seroja tahun 2021. Di sisi lain, masyarakat Amarasi telah lama mengembangkan sistem kearifan lokal bernama Mamar, yaitu sistem agroforestri dan konservasi sumber daya air yang dikelola melalui kelembagaan adat. Artikel ini bertujuan mengkaji potensi integrasi kearifan lokal Mamar ke dalam kerangka kebijakan Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Kampung Siaga Bencana (KSB) sebagai strategi manajemen risiko bencana berbasis masyarakat di Amarasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui kajian pustaka terhadap regulasi nasional, laporan kebencanaan, serta literatur ilmiah nasional dan internasional mengenai pengurangan risiko bencana berbasis komunitas. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi kelembagaan adat Mamar dengan struktur formal KSB berpotensi memperkuat pilar-pilar ketangguhan Destana, terutama pada aspek pengkajian risiko, sistem peringatan dini, dan mobilisasi sumber daya lokal. Pembelajaran dari pengalaman desa kering di Timor Barat, Tiongkok, dan Kamboja memperkuat argumen bahwa keberlanjutan program pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat sangat bergantung pada penghormatan terhadap struktur sosial lokal yang telah ada. Artikel ini merekomendasikan model konseptual KSB Amarasi yang mengintegrasikan kelembagaan adat Mamar, sistem pemantauan multi-bahaya, dan partisipasi lintas generasi sebagai fondasi keberlanjutan program.
East Nusa Tenggara Province, including Amarasi Sub-district in Kupang Regency, is among Indonesia's most disaster-exposed regions, marked by chronic seasonal drought alongside abrupt tropical cyclone hazards, as evidenced by Tropical Cyclone Seroja in 2021. At the same time, the Amarasi community has long practised Mamar, an indigenous agroforestry and water-conservation system governed through customary institutions. This article examines the potential of integrating Mamar local wisdom into Indonesia's Disaster Resilient Village (Destana) and Disaster Preparedness Village (Kampung Siaga Bencana/KSB) policy framework as a community-based disaster risk management strategy for Amarasi. A descriptive qualitative method was applied through a literature review of national regulations, disaster reports, and national and international scholarly works on community-based disaster risk reduction. The findings show that integrating Mamar's customary institutions with the formal KSB structure can strengthen Destana's resilience pillars, particularly risk assessment, early warning systems, and local resource mobilisation. Lessons from dryland village experience in West Timor, China, and Cambodia reinforce the argument that the sustainability of community-based disaster risk reduction programmes depends on respect for pre-existing local social structures. The article proposes a conceptual Amarasi KSB model integrating Mamar customary institutions, multi-hazard monitoring systems, and cross-generational participation as the foundation for programme sustainability




