BUDAYA COHABITATION: TINJAUAN KRITIS DARI KACAMATA MAHASISWA ISLAM
Kata Kunci:
Cohabitation, Islam, Mahasiswa, Norma Sosial, Pendidikan AgamaAbstrak
Cohabitation atau tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan semakin marak di kalangan generasi muda di Indonesia, terutama di perkotaan. Meskipun semakin umum, praktik ini tetap menuai kontroversi karena bertentangan dengan ajaran Islam yang melarang hubungan di luar pernikahan. Cohabitation dinilai sebagai perilaku yang menyimpang dari norma sosial dan agama, dengan dampak negatif pada individu dan masyarakat seperti kerusakan moral, ketidakstabilan keluarga, serta masalah psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pandangan mahasiswa terkait cohabitation. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui kuesioner terbuka. Hasil menunjukkan mayoritas mahasiswa memandang cohabitation sebagai pelanggaran nilai agama dan sosial, dengan faktor globalisasi, budaya Barat, dan media sosial sebagai pendorong utama. Solusi yang ditawarkan adalah memperkuat pendidikan agama dan peran keluarga dalam membimbing generasi muda. Studi ini menekankan pentingnya pendekatan intensif dalam pendidikan agama dan penguatan nilai-nilai keluarga untuk menghadapi perubahan sosial ini.
Cohabitation, or living together without marriage, is increasingly prevalent among young people in Indonesia, especially in urban areas. Although increasingly common, the practice remains controversial as it contradicts Islamic teachings that prohibit relationships outside of marriage. Cohabitation is considered a behavior that deviates from social and religious norms, with negative impacts on individuals and society such as moral decay, family instability, and psychological problems. This study aims to understand the views of university students regarding cohabitation. This study used a descriptive qualitative method through an open-ended questionnaire. The results show that the majority of students view cohabitation as a violation of religious and social values, with globalization, Western culture, and social media as the main drivers. The solution offered was to strengthen religious education and the role of the family in guiding the younger generation. This study emphasizes the importance of an intensive approach in religious education and strengthening family values to deal with this social change.




