MITOS DEWI LANJAR DI PANTAI UTARA JAWA: KAJIAN STRUKTURAL SEMIOTIK LÉVI-STRAUSS
Kata Kunci:
Dewi Lanjar, Pantura, Struktural Semiotik, Lévi-Strauss, Hermeneutik, PantanganAbstrak
Artikel ini menelaah mitos Dewi Lanjar yang hidup dan berkembang di kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura), dengan pusat persebaran utama di Pekalongan. Meskipun mitos pesisir utara sering kali terpinggirkan dalam diskursus akademis dibandingkan mitos Laut Selatan, penelitian ini mengisi celah penting terkait struktur naratif dan fungsi sosialnya dalam masyarakat modern. Kajian ini menggunakan kerangka struktural semiotik Claude Lévi-Strauss melalui teknik pembacaan dua tingkat: tingkat pertama diposisikan sebagai instrumen pengumpulan dan validasi data empiris, sedangkan tingkat kedua menggunakan pendekatan hermeneutik sebagai alat analisis. Data digali melalui wawancara mendalam dengan informan kunci, pengamatan lapangan, serta studi kepustakaan yang komprehensif. Temuan kajian menunjukkan bahwa mitos ini bertumpu pada oposisi biner antara dunia nyata dan dunia gaib, kemuliaan dan stigma sosial, serta kepatuhan dan pelanggaran. Dewi Lanjar berfungsi secara efektif sebagai mediator kosmologis yang menjembatani oposisi-oposisi tersebut. Selain itu, mitos ini mengemban fungsi sosial yang nyata, meliputi pengendalian norma, pendidikan moral, legitimasi tradisi lokal, hingga pelindungan ekosistem pesisir melalui sistem pantangan yang dipatuhi secara kolektif oleh komunitas nelayan dan masyarakat pesisir utara hingga saat ini.
This article examines the myth of Dewi Lanjar that lives and develops in the Northern Coast of Java (Pantura), centered in Pekalongan. Although northern coastal myths are often marginalized in academic discourse compared to South Sea myths, this study addresses an important gap regarding narrative structures and social functions in modern society. The study employs Claude Lévi-Strauss's structural semiotics framework through a two-level reading technique: the first level functions as an instrument for empirical data collection and validation, while the second level applies hermeneutics as the analytical tool. Data were gathered through in-depth interviews with key informants, field observations, and comprehensive literature reviews. Findings reveal that this myth rests on binary oppositions between the human and supernatural worlds, nobility and social stigma, and obedience and transgression. Dewi Lanjar functions effectively as a cosmological mediator bridging these oppositions. Furthermore, the myth carries tangible social functions, including norm control, moral education, local tradition legitimation, and coastal ecosystem protection through a system of taboos collectively obeyed by fishing and coastal communities to this day.




