KEMAMPUAN MENCERITAKAN KEMBALI ISI BACAAN BERMUATAN BUDAYA LOKAL PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

Penulis

  • Jessica Olivia Br Ginting Universitas Negeri Medan
  • Natasya Stefanie Naomi Siahaan Universitas Negeri Medan
  • Rosari Panjaitan Universitas Negeri Medan
  • Sartika L Rahmayanti Br Ginting Universitas Negeri Medan
  • Swanny Ruth Jessica Br Ginting Universitas Negeri Medan

Kata Kunci:

Menceritakan Kembali, Membaca Pemahaman, Budaya Lokal, Sekolah Dasar, Rubrik Autentik

Abstrak

Menceritakan kembali isi bacaan (retelling) merupakan indikator pemahaman membaca tingkat tinggi karena menuntut siswa mengingat, menyusun ulang, dan menyampaikan informasi teks menggunakan bahasa sendiri secara runtut. Penelitian mengenai membaca pemahaman siswa sekolah dasar di Indonesia pada umumnya masih diukur secara agregat melalui angket berskala Likert, sehingga kemampuan menceritakan kembali sebagai keterampilan tersendiri belum banyak dianalisis secara mendalam dan autentik, khususnya pada teks bermuatan budaya lokal di luar Pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan bermuatan budaya lokal pada siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Medan melalui teks “Bermain Gondang di Kampung”. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kombinasi (mixed methods sekuensial) dengan melibatkan 24 siswa kelas IV sebagai subjek. Data dikumpulkan melalui tugas menceritakan kembali secara lisan dan tulisan, observasi, serta angket pendukung, kemudian dianalisis menggunakan rubrik penilaian menceritakan kembali yang dikembangkan berdasarkan lima aspek, yaitu kelengkapan unsur cerita, keruntutan alur, ketepatan penggunaan bahasa sendiri, kejelasan penyampaian pesan, dan pemahaman nilai budaya lokal. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemampuan siswa paling menonjol pada aspek kelengkapan unsur cerita dan pemahaman nilai budaya lokal, sedangkan aspek keruntutan alur dan ketepatan bahasa sendiri masih berada pada kategori sedang. Temuan ini memperkuat sekaligus memperdalam hasil mini riset sebelumnya yang menunjukkan bahwa 42,08% respons siswa berada pada kategori “kadang-kadang” dan “tidak pernah” dalam memahami bacaan. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan instrumen rubrik autentik yang memuat dimensi pemahaman nilai budaya lokal, suatu dimensi yang belum terdapat dalam rubrik menceritakan kembali konvensional, serta pada konteks budaya Batak Toba (tradisi gondang) yang jarang dikaji dalam penelitian literasi berbasis budaya lokal di Indonesia. Penelitian ini merekomendasikan penguatan latihan menceritakan kembali secara terstruktur melalui bahan bacaan bermuatan budaya lokal sebagai strategi peningkatan literasi sekaligus pelestarian budaya di sekolah dasar.

Retelling is a higher-order reading comprehension indicator because it requires students to recall, reorganize, and communicate textual information coherently in their own words. Reading comprehension research among Indonesian elementary students has largely relied on aggregated Likert-scale questionnaires, leaving retelling as a discrete skill underexplored, particularly for local culture-based texts outside Java. This study aims to describe the retelling ability of fourth-grade students at SD Negeri 066050 Medan using the local culture-based text “Bermain Gondang di Kampung”. A sequential descriptive mixed-methods design was employed, involving 24 fourth-grade students. Data were collected through oral and written retelling tasks, classroom observation, and a supporting questionnaire, then analyzed using a retelling rubric covering five dimensions: completeness of story elements, sequential coherence, accuracy of self-generated language, clarity of message delivery, and understanding of local cultural values. Results show that students performed best on story-element completeness and cultural-value understanding, while sequential coherence and self-generated language accuracy remained at a moderate level. These findings corroborate and deepen a prior mini-research finding in which 42.08% of student responses fell into the “sometimes” and “never” categories of comprehension. The novelty of this study lies in the authentic rubric instrument that incorporates a local cultural-value dimension absent from conventional retelling rubrics, and in its focus on Batak Toba gondang culture, a context rarely examined in Indonesian local-culture literacy research. The study recommends structured retelling practice using local culture-based reading materials as a strategy to enhance literacy while preserving cultural heritage in elementary education.

Unduhan

Diterbitkan

2026-09-30