VERNAKULASI TAFSIR ACHMAD CHODJIM STUDI KATA MĀLIKI YAWMIDDĪN

Penulis

  • Ikmal Hadi Sekolah Tinggi Agama Islam Sadra

Kata Kunci:

Yawmiddīn, Achmad Chodjim, Pribumisasi Tafsir, Eskatologi Nusantara

Abstrak

Diskursus hari kiamat sering kali didominasi narasi eskatologis linier berorientasi masa depan. Berbeda dari pandangan arus utama, Achmad Chodjim mereinterpretasi frasa māliki yawmiddīn dalam QS. Al-Fātiḥah sebagai realitas eskatologis yang dialami manusia saat ini. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pemikiran Chodjim dalam dialektika antara spiritualitas Islam dan kearifan lokal Nusantara. Menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif dan analisis semantik, penelitian ini mengisi celah kajian Shafira, Kasim, dan Shabry dengan fokus pada konsep "Pribumisasi Tafsir". Hasil penelitian menunjukkan bahwa Chodjim memaknai yawmiddīn sebagai proses pertanggungjawaban keseharian, dengan mengintegrasikan konsep spiritual Jawa seperti jagad cilik dan sedulur papat lima pancer. Pendekatan ini tidak menafikan esensi eskatologi Islam, melainkan mengontekstualisasikannya menjadi momentum kebangkitan kesadaran spiritual individu yang selaras dengan nilai-nilai lokal. Dengan demikian, tafsir Chodjim memperkaya khazanah intelektual Nusantara dengan menghadirkan corak Islam yang inklusif dan rahmatan lil ‘alamin.

The discourse on the Day of Judgment is often dominated by linear eschatological narratives oriented toward the future. Departing from mainstream perspectives, Achmad Chodjim reinterprets the phrase māliki yawmiddīn in Surah Al-Fātiḥah as an eschatological reality experienced in the present. This study aims to explore Chodjim’s thought within the dialectic of Islamic spirituality and local Nusantara wisdom. Using a literature review method with a qualitative approach and semantic analysis, this research fills the gaps in previous studies by Shafira, Kasim, and Shabry by focusing on the framework of the "Indigenization of Tafsir" (Pribumisasi Tafsir). The results demonstrate that Chodjim interprets yawmiddīn as an ongoing process of accountability in daily life, integrating Javanese spiritual concepts such as jagad cilik (microcosm) and sedulur papat lima pancer. This approach does not negate the essence of Islamic eschatology; rather, it contextualizes it as a momentum for awakening individual spiritual consciousness, aligned with local values. Consequently, Chodjim’s interpretation enriches Nusantara’s intellectual repertoire by presenting an inclusive and rahmatan lil ‘alamin (mercy to all creation) face of Islam.

Unduhan

Diterbitkan

2026-10-31