KETAHANAN PANGAN DAN KEARIFAN LOKAL: PERAN PPKN DALAM MEMBINGKAI TATA BOGA YANG BERKELANJUTAN

Penulis

  • Fabio Orlando Universitas Pendidikan Indonesia
  • Muhamad Rawdi Abimanyu Syarifuddin Universitas Pendidikan Indonesia
  • Oka Adam Aresta Universitas Pendidikan Indonesia
  • Rasyakti Nenggala Nithisastra Universitas Pendidikan Indonesia
  • Regina Salsabila Putri Sandy Universitas Pendidikan Indonesia
  • Ratna Fitria Universitas Pendidikan Indonesia

Kata Kunci:

Ketahanan Pangan, Kearifan Lokal Sunda, PPKN, Kewargaan Gastronomis, Pendidikan Berkelanjutan

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah titik temu antara ketahanan pangan dan warisan kuliner lokal melalui peran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dalam membingkai budaya tata boga yang berkelanjutan. Menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif pada masyarakat di Bandung, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai PPKn mampu berfungsi sebagai jembatan aksiologis yang menyambungkan kembali warga dengan tradisi pangan Sunda seperti konsumsi musiman, keberagaman nabati, dan tata kelola pangan komunal sekaligus menghidupkan kembali bahan pangan lokal yang terpinggirkan seperti hanjeli dan cimplung. Studi ini berargumen bahwa internalisasi nilai-nilai kewarganegaraan dapat mentransformasi kesadaran masyarakat menjadi "kewargaan gastronomis", di mana pilihan pangan berkelanjutan dipahami sebagai hak sekaligus tanggung jawab warga negara, serta menjadi jalur yang berakar budaya menuju sistem pangan yang resilien.

This study aims to examine the intersection of food security and local culinary heritage through the role of Pancasila and Civic Education (PPKn) in framing sustainable food culture. Employing a qualitative case study approach within the community of Bandung, data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and relevant document analysis. The findings reveal that PPKn values can function as an axiological bridge, reconnecting citizens with Sundanese traditional food practice including seasonal consumption, plant diversity, and communal food governance while also reviving marginalized local ingredients such as hanjeli and cimplung. This study argues that the internalization of civic values can transform community awareness into "gastronomic citizenship", wherein sustainable food choices are understood as both civic rights and responsibilities, offering a culturally rooted pathway toward resilient food systems.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-30