MEMBONGKAR MITOS “ZAMAN KEEMASAN”: KRITIK HISTORIOGRAFI TERHADAP NARASI TUNGGAL KEMAJUAN PERADABAN ISLAM ABAD KE-8–13
Kata Kunci:
Zaman Keemasan Islam, Kritik Historiografi, Orientalisme, Peradaban Abbasiyah, Narasi Dominan, Pluralisme Sejarah, Revisionisme Historiografis, Ingatan KolektifAbstrak
Periodisasi abad ke-8 hingga ke-13 Masehi dalam sejarah Islam hampir selalu dihadirkan dengan satu label yang sama: "Zaman Keemasan." Label itu bukan sekadar penamaan; ia membawa serta seperangkat asumsi tentang kemajuan yang seragam, kejayaan yang tak terbantahkan, dan peradaban yang bergerak lurus menuju puncaknya. Artikel ini mempertanyakan asumsi-asumsi tersebut, bukan untuk menafikan pencapaian intelektual umat Islam pada masa itu, melainkan karena narasi tunggal justru menyederhanakan dan dalam banyak hal mendistorsi kenyataan historis yang jauh lebih kompleks. Kritik yang diajukan bergerak pada tiga titik: (1) konsep "Zaman Keemasan" lebih banyak dibentuk oleh orientalisme abad ke-19 daripada oleh kesadaran internal umat Islam; (2) narasi dominan mereduksi peradaban Islam menjadi produk Arab semata, padahal sumbangan Persia, Turki, dan Afrika sub-Sahara tidak bisa diabaikan; dan (3) di balik kemegahan Baghdad dan Cordoba tersimpan ketegangan teologis yang tajam serta suara-suara yang secara sistematis dibungkam. Dengan berpijak pada sumber-sumber primer Arab dan Persia serta pembacaan kritis atas karya Howard Turner, Seyyed Hossein Nasr, dan Ahmad Dallal, artikel ini berargumen bahwa yang sesungguhnya terjadi bukanlah satu "zaman emas," melainkan sejumlah puncak kemajuan yang terpencar berbeda tempat, berbeda waktu, dan tidak jarang saling bertolak belakang.
The periodization spanning the 8th to 13th centuries CE in Islamic history is almost invariably presented under a single label: the "Golden Age." That label is not merely a name it carries with it a set of assumptions about uniform progress, unquestionable glory, and a civilization advancing in a straight line toward its peak. This article interrogates those assumptions, not to deny the intellectual achievements of Muslims during that era, but because a singular narrative ultimately simplifies and, in many respects, distorts a far more complex historical reality. The critique advances along three axes: (1) the concept of the "Golden Age" was shaped far more by 19th-century Orientalism than by any internal consciousness within the Muslim world; (2) the dominant narrative reduces Islamic civilization to an Arab product alone, ignoring Persian, Turkic, and sub-Saharan African contributions; and (3) behind the grandeur of Baghdad and Córdoba lay sharp theological tensions and systematically silenced voices. Drawing on primary Arabic and Persian sources alongside a critical reading of Howard Turner, Seyyed Hossein Nasr, and Ahmad Dallal, this article argues that what actually occurred was not one "golden age" but rather a series of dispersed peaks of advancement different places, different times, and often in direct tension with one another


