KAJIAN SEMIOTIKA: MAKNA SIMBOLIK LATAR KOTA DALAM NOVEL BANDUNG AFTER RAIN
Kata Kunci:
Semiotika, Charles Sanders Peirce, Makna Simbolik, Bandung After RainAbstrak
Penelitian ini berfokus pada analisis makna serta penggunaan simbol dalam novel Bandung After Rain yang ditulis oleh Wulan Nur Amalia dengan menggunakan sudut pandang semiotika dari Charles Sanders Peirce. Dalam sastra, Kota Bandung sering kali digambarkan melampaui batas fisiknya, menjadikannya sebagai ruang emosional bagi karakter-karakternya. Penelitian ini mengaplikasikan metode kualitatif deskriptif dengan teknik analisis yang meliputi kajian literatur dan analisis triadik yang mencakup representamen, objek, dan interpretan. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa: (1) Ikon dalam karya ini ditunjukkan lewat elemen topografi seperti Jalan Braga dan Dago yang menciptakan realitas spasial secara puitis; (2) Indeks muncul dari fenomena hujan yang berfungsi sebagai penanda sebab-akibat terhadap suasana hati melankolis dan perubahan alur cerita; (3) Simbol diekspresikan melalui personifikasi kota serta metafora warna "abu-abu" yang merepresentasikan ketidakpastian nasib dan ambivalensi emosi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penulis berhasil mengintegrasikan ruang perkotaan dengan dinamika psikologis, sehingga Bandung berubah dari sekadar latar fisik menjadi ruang semiotik yang mencerminkan tahap pertumbuhan manusia.
This research focuses on the analysis of meaning and the use of symbols in the novel Bandung After Rain by Wulan Nur Amalia, using Charles Sanders Peirce's semiotic perspective. In literature, the city of Bandung is often depicted as transcending its physical boundaries, transforming it into an emotional space for its characters. This research applies a descriptive qualitative method with analytical techniques that include a literature review and triadic analysis encompassing representamen, objects, and interpretants. The findings of this research reveal that: (1) Icons in this work are shown through topographical elements such as Jalan Braga and Dago, which create a poetic spatial reality; (2) Indexes emerge from the phenomenon of rain, which functions as a cause-and-effect marker for the melancholic mood and changes in the storyline; (3) Symbols are expressed through the personification of the city and the metaphor of the color "gray" which represents the uncertainty of fate and emotional ambivalence. The conclusion of this research is that the author successfully integrates urban space with psychological dynamics, transforming Bandung from a mere physical setting into a semiotic space reflecting the stages of human growth.


