YUBILEUM SEBAGAI JALAN PERTOBATAN EKOLOGIS: REFLEKSI ATAS ENSIKLIK LAUDATO SI

Penulis

  • Martinus Celi Ambo Institut Filsafat Dan Teknologi Kreatif Ledalero

Kata Kunci:

Yubileum, Pertobatan, Krisis Ekologi, Laudato Si

Abstrak

Perjalanan panjang dan terjal dalam mengendus kebenaran, meraih kesejahteraan serta kebijaksanaan seringkali hanya berkutat seputar masalah kemanusiaan. Nasib bumi sebagai home atau rumah acpkali disepelehkan. Antroposentrisme menjadi salah satu gagasan yang teramat dalam menusuk pikiran sehingga alam sebagai rahim kehidupan dipahami sebagai penyedia kebutuhan manusia. Kajian ini mengunakan metode kualitatif, khususnya studi pustaka. Penulis menggumpulkan data berupa buku-buku ilmiah, jurnal, data-data oneline dan dokumen Gereja. Artikel ini berikhtiar menegaskan bahwa pandangan-pandangan primitive manusia hendaknya direparasi. Bumi sebagai rahim kehidupan yang dimana segala kehidupan tumbuh makin lantang digaungkan dan dijaga kelestariannya. Ziarah harapan menjadi momen yang mesti dimanfaatkan sebaik mungkin agar manusia ditengah bencana kemanusian sekaligus krisis ekologi semakin memberi diri untuk memaknai eksistensi alam sebagai bagian dari dirinya sendiri. Yubelium sebagai tahun rahmat Tuhan dan pertobatan membawa rahmat pengampunan dosa, serta pertobatan ekologis menjadi topik krusial dalam artikel ini. Gereja tidak hanya sampai pada gagasan semata tanpa aksi nyata. Ensiklik Laudato Si menjadi wujud sentral ketegasan gereja menaggapi persoalan ini.

The long and arduous journey in sniffing out the truth, achieving prosperity and wisdom often revolves around human issues. The fate of the earth as a home is often neglected. Anthropocentrism is one of the ideas that is deeply ingrained in thought, so that nature as the womb of life is understood as a provider of human needs. This study uses qualitative methods, especially literature studies. The author collects data in the form of scientific books, journals, online data and Church documents. This article strives to affirm that primitive human views should be repaired. The earth as the womb of life where all life grows is increasingly loudly echoed and preserved. The pilgrimage of hope is a moment that must be utilized as well as possible so that humans in the midst of human disasters and ecological crises increasingly give themselves to interpret the existence of nature as part of themselves. Jubilee as the year of God's mercy and conversion brings the grace of forgiveness of sins, and ecological conversion becomes a crucial topic in this article. The Church is not only limited to ideas without real action. The encyclical Laudato Si is a central manifestation of the Church's firmness in responding to this issue.

Unduhan

Diterbitkan

2025-11-30