PENGARUH KONTROL DIRI DAN KOMITMEN ORGANISASI TERHADAP PERILAKU CYBERLOAFING ASN PEMERINTAHAN DI MAKASSAR
Kata Kunci:
Cyberloafing, Kontrol Diri, Komitmen Organisasi, Aparatur Sipil NegaraAbstrak
Cyberloafing merupakan perilaku penggunaan internet untuk kepentingan pribadi selama jam kerja yang berpotensi merugikan instansi, di antaranya adalah menurunkan produktivitas dan kualitas pelayanan publik, pemborosan waktu, penurunan kualitas kerja, dan meningkatnya risiko terhadap keamanan informasi khususnya pada Aparatur Sipil Negara (ASN). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kontrol diri dan komitmen organisasi terhadap cyberloafing pada ASN Pemerintahan di Makassar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Subjek penelitian berjumlah 380 ASN Pemerintahan di Makassar. Data dikumpulkan melalui skala cyberloafing yang mengacu pada aspek teori Lim (2009) dengan nilai reliabilitas sebesar 0,925, skala kontrol diri yang mengacu pada aspek teori Tangney, Baumeister dan Boone (2004) dengan nilai reliabilitas sebesar 0,936, dan skala komitmen organisasi yang mengacu pada aspek teori Mowday, Steers dan Porter (1982) dengan nilai reliabilitas sebesar 0,923, kemudian di analisis menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi kontrol diri yang dimiliki ASN maka semakin rendah kecenderungan melakukan perilaku cyberloafing, semakin tinggi komitmen organisasi yang dimiliki ASN, maka semakin rendah kecenderungan melakukan perilaku cyberloafing, kontrol diri dan komitmen organisasi terbukti mempengaruhi perilaku cyberloafing secara bersamaan. Untuk menekan perilaku cyberloafing di tempat kerja, diharapkan instansi pemerintah perlu menyusun kebijakan penggunaan internet yang jelas dan proposional, disertai dengan sosialisasi yang berkelanjutan agar meningkatkan kesadaran ASN tentang dampak negatif dari perilaku cyberloafing.
Cyberloafing refers to the use of the internet for personal purposes during working hours that has the potential to harm organizations, including reduced productivity and quality of public services, time wastage, decreased work quality, and increased risks to information security, particularly among Civil Servants (ASN). This study aims to examine the effects of self-control and organizational commitment on cyberloafing behavior among civil servants in the Makassar Government. This study employed a quantitative approach using a survey method. The research subjects consisted of 380 civil servants working in the Makassar Government. Data were collected using a cyberloafing scale based on Lim’s (2009) theoretical aspects with a reliability coefficient of 0.925, a self-control scale based on the theoretical aspects of Tangney, Baumeister, and Boone (2004) with a reliability coefficient of 0.936, and an organizational commitment scale based on the theoretical aspects of Mowday, Steers, and Porter (1982) with a reliability coefficient of 0.923. The data were analyzed using multiple linear regression analysis. The results showed that higher levels of self-control among civil servants were associated with a lower tendency to engage in cyberloafing behavior. Similarly, higher levels of organizational commitment were associated with a lower tendency to engage in cyberloafing behavior. Furthermore, self-control and organizational commitment were found to jointly influence cyberloafing behavior. To reduce cyberloafing behavior in the workplace, it is recommended that government institutions establish clear and proportional internet usage policies, accompanied by continuous socialization to enhance civil servants’ awareness of the negative impacts of cyberloafing behavior. Building Awareness, Improving Quality Of Life.




