PERGESERAN NILAI GELAR DAENG DI KALANGAN GEN Z SUKU MAKASSAR PERANTAUAN DI DESA LEMPAKE KABUPATEN BERAU
Kata Kunci:
Pergeseran Nilai, Gelar Daeng, Gen Z, Suku Makassar, PerantauanAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami persepsi masyarakat terhadap penggunaan gelar Daeng dalam kehidupan sosial budaya, serta menganalisis pengaruh modernisasi dan perubahan sosial terhadap identitas budaya masyarakat Makassar di Desa Lempake, Kabupaten Berau. Gelar Daeng yang secara tradisional merupakan simbol bangsawan dan kehormatan kini mengalami pergeseran makna di tanah perantauan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan 12 (Dua Belas) informan yang terdiri dari generasi tua dan generasi muda (Gen Z). Teknik analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keberagaman persepsi mengenai gelar Daeng. Bagi generasi tua, gelar ini tetap dianggap sebagai kartu identitas dan amanah silsilah yang mempererat solidaritas sesama perantau. Namun, di kalangan Gen Z, terjadi penurunan makna simbolik di mana gelar tersebut sering kali dianggap hanya sebagai bagian dari nama tanpa keterikatan emosional yang kuat terhadap nilai filosofisnya. Modernisasi dan lingkungan perantauan yang heterogen mendorong Gen Z untuk lebih mengidentifikasi diri dengan identitas modern dibandingkan identitas kultural tradisional. Meski demikian, nilai-nilai inti seperti siri na pacce tetap diupayakan untuk diinternalisasi dalam bentuk perilaku yang lebih praktis dan kontekstual.
This study aims to identify and understand public perceptions regarding the use of the Daeng title in socio-cultural life and to analyze the influence of modernization and social change on the cultural identity of the Makassar community in Lempake Village, Berau Regency. The Daeng title, which is traditionally a symbol of nobility and honor, is currently undergoing a shift in meaning within the diaspora. The research method used is qualitative. Data were collected through observation, documentation, and interviews with 12 informants consisting of the older generation and the younger generation (Gen Z). Data analysis techniques included data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show a diversity of perceptions regarding the Daeng title. For the older generation, this title is still regarded as an identity card and a genealogical mandate that strengthens solidarity among fellow migrants. However, among Gen Z, there is a decline in symbolic meaning where the title is often seen merely as part of a name without a strong emotional attachment to its philosophical values. Modernization and the heterogeneous diaspora environment encourage Gen Z to identify more with modern identities rather than traditional cultural ones. Nevertheless, core values such as siri na pacce are still sought to be internalized in more practical and contextual forms of behavior.




