PAMARGIN MODÉL PAPLAJAHAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION (GI)SAJERONING PAPLAJAHAN SOR SINGGIH BASA BALI KAWANTU ANTUK VIDEO ANIMASI KARTUN RING SMA NEGERI 1 BANGLI

Penulis

  • Sang Ayu Putu Widya Juni Ariani Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
  • Gek Diah Desi Sentana Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
  • I Kadek Widiantana Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Kata Kunci:

Group Investigation (Gi), Video Animasi Kartun, Sor Singgih Basa Bali, Sma Negeri 1 Bangli.

Abstrak

Model pembelajaran kooperatif group investigation dianggap sulit untuk diterapkan dalam pembelajaran dasar bahasa Indonesia, karena model ini menekankan pada hubungan antara materi pelajaran dengan konteks nyata. Penelitian ini akan membahas dua topik utama yaitu: (1) Bagaimana penerapan Model pembelajaran kooperatif group investigation (GI) dalam pembelajaran Sor singgih basa Bali berbantuan Video Animasi Kartun di kelas XI SMA Negeri 1 Bangli? (2) Tantangan dan usaha dalam penerapan Model pembelajaran Group investigation (GI)dalam pemebelajaran sor singgih basa Bali berbantuan Video Animasi Kartun di SMA Negeri 1 Bangli? Teori-teori yang digunakan untuk menganalisis masalah adalah teori behaviorisme dan teori konstruktivisme. Penelitian ini menggunakan sumber data utama dan sumber data pendukung. Data dikumpulkan melalui latihan, diskusi, dokumentasi, dan pustaka. Data kemudian dianalisis. Tipe data yang digunakan adalah data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah (1) Penggunaan Model pembelajaran koperatif GI dalam pembelajaran Sor singgih bahasa Bali berbantuan Video Animasi Kartun di kelas XI SMA Negeri 1 Bangli, (2) Tantangan dalam menggunakan model pembelajaran GI  guru sulit memantau keikutsertaan siswa dalam diskusi kelompok, munculnya ketimpangan antara kelompok 1 dengan kelompok lainnya pada saat mempresentasikan hasil karena perbedaan kemampuan berfikir setiap anak. Siswa diberikan kebebasan untuk mencari materi sendiri dan guru hanya sebagai fasilitator. Dalam menyiampakan perangkat lunak guru seringkali mengalami penguluran waktu. Selain itu siswa juga perlu menyesuaikan diri untuk menunjukkan kemampuannya dalam diskusi kelompok dan siswa lain mampu melengkapi kekurangan yang dimiliki teman kelompoknya. Sehingga pembagian tugas yang merata tidak membuat siswa merasa terbebani akan tugas yang diberikan guru.

The cooperative group investigation learning model is considered difficult to implement in basic Indonesian language learning because it emphasizes the relationship between subject matter and real-world contexts. This study will discuss two main topics: (1) How is the cooperative group investigation (GI) learning model implemented in Balinese language learning using animated cartoon videos in grade XI students at SMA Negeri 1 Bangli? (2) What are the challenges and efforts involved in implementing the group investigation (GI) learning model in Balinese language learning using animated cartoon videos at SMA Negeri 1 Bangli? The theories used to analyze the problem are behaviorism and constructivism. This study uses primary and supporting data sources. Data were collected through exercises, discussions, documentation, and literature. The data were then analyzed. The data type used is descriptive qualitative data. The results of this study are (1) The use of the GI cooperative learning model in learning Sor Singgih Balinese language assisted by Cartoon Animation Videos in class XI SMA Negeri 1 Bangli, (2) Challenges in using the GI learning model teachers have difficulty monitoring student participation in group discussions, the emergence of inequality between group 1 and other groups when presenting results due to differences in each child's thinking ability. Students are given the freedom to find their own material and the teacher only acts as a facilitator. In delivering software teachers often experience delays. In addition, students also need to adjust to demonstrate their abilities in group discussions and other students are able to complement the shortcomings of their group mates. So that the distribution of tasks evenly does not make students feel burdened by the tasks given by the teacher.

Unduhan

Diterbitkan

2026-05-31