ANALISIS TRADISI BERBURU MASYARAKAT NGADA DALAM PERSPEKTIF ORDO AMORIS BERDASARKAN PEMIKIRAN AGUSTINUS DARI HIPPO: KAJIAN FILOSOFIS KRITIS KONTEKSTUAL
Kata Kunci:
Budaya Ngada, Etika Lingkungan, Ordo Amoris, Tradisi Berburu, Filsafat EkologisAbstrak
Tradisi berburu dalam masyarakat Ngada merupakan praktik kultural yang mengandung nilai sosial, ekologis, dan spiritual, namun juga mamunculkan pertanyaan etis dalam konteks modern. Penelitian ini bertujuan menganalisis tradisi tersebut melalui perspektif ordo amoris menurut Agustinus dari Hippo untuk menilai keteraturan cinta dan nilai moral yang mendasarinya. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif berbasis kajian literatur dengan pendekatan filosofis-kritis dan kontekstual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi berburu masyarakat Ngada tidak semata-mata berorientasi pada eksploitasi alam, melainkan mengundang dimensi relasional antara manusia, alam, dan Yang Ilahi yang dapat dipahami sebagai bentuk cinta yang teratur, meskipun msaih tedapat ketegangan antara nilai tradisional dan tuntutan etika kontemporer. Selain itu, tradisi berburu juga memiliki makna sosial dan simbolik yang memperkuat solidaritas komunitas serta mempertahankan identitas budaya masyarakat Ngada. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya reinterpretasi nilai budaya lokal dalam terang refleksi filosofis agar tetap relevan dan etis dalam konteks global, khususnya di tengah krisis ekologis modern dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya relasi manusia yang berkelanjutan dengan alam.
The hunting tradition of the Ngada community represents a cultural practice embedded with social, ecological, and spiritual values, yet it also raises ethical questions in the modern context. This study aims to analyze the tradition through the perspective of ordo amoris as proposed by Augustine of Hippo in order to evaluate the moral order of love underlying it. The method employed is a qualitative literature based study using a philosophical-critical and contextual approach. The findings reveal that Ngada hunting tradition is not merely oriented toward exploitation of nature but reflects a relational dimension between humans, nature, and the Divine, which can be understood as an ordered form of love, although tensions remain between traditional values and contamporary ethical demands. Furthermore, this tradition contains communal, symbolic, and ecological meanings that strengthen social solidarity and cultural identity within the Ngada community. This implication of the study highlights the importance of reinterpreting local cultural values through philosophical reflection to maintain their relevance and ethical significance in a global contest, especially amid contemprary ecological crises and the increasing need for sustainable human relationshi with nature.




