GAMBARAN OBAT KADALUWARSA (EXPIRED DATE) DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH IBU DAN ANAK PERTIWI MAKASSAR PADA TAHUN 2025
Kata Kunci:
Obat Kadaluwarsa, Pengelolaan Obat, Rumah SakitAbstrak
Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, mencakup aspek medis dan administratif, termasuk pengelolaan obat. Pengelolaan obat yang kurang optimal dapat menyebabkan penumpukan obat kadaluwarsa yang berdampak pada kerugian ekonomi dan menurunnya efisiensi pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab terjadinya obat kadaluwarsa (expired date) di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu dan Anak Pertiwi Makassar pada tahun 2025. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama obat kadaluwarsa meliputi kurangnya ketepatan dalam perencanaan pengadaan, lemahnya penerapan prinsip FIFO dan FEFO, sistem pencatatan stok yang belum terintegrasi, serta komunikasi yang tidak efektif antar unit pelayanan. Selain itu, faktor eksternal seperti perubahan kebijakan medis dan tren penyakit juga turut memengaruhi. Nilai kerugian akibat obat kadaluwarsa pada tahun 2024 sebesar Rp 1.611.230 dan meningkat pada tahun 2025 menjadi Rp 2.295.514. Diperlukan perbaikan sistem pengelolaan obat yang lebih adaptif, pemanfaatan teknologi informasi secara maksimal, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam manajemen farmasi untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Hospitals are complex healthcare institutions that encompass both medical and administrative aspects, including drug management. Suboptimal drug management can lead to the accumulation of expired medications, resulting in economic losses and decreased healthcare service efficiency. This study aims to analyze the causes of expired drugs at the Pharmacy Installation of the Regional Special Hospital for Mother and Child Pertiwi Makassar in 2025. The method used is a descriptive qualitative approach, with data collected through interviews, observations, and documentation. The findings indicate that the main causes of drug expiration include inaccuracies in procurement planning, weak implementation of FIFO (First In, First Out) and FEFO (First Expired, First Out) principles, unintegrated stock recording systems, and ineffective communication between service units. In addition, external factors such as changes in medical policies and disease trends also contribute. The financial loss due to expired drugs was IDR 1,611,230 in 2024 and increased to IDR 2,295,514 in 2025. Improvements in a more adaptive drug management system, maximum utilization of information technology, and enhanced human resource competence in pharmaceutical management are essential to prevent the recurrence of similar incidents in the future.




