PERLINDUNGAN SUBJEK DAN OBJEK SAAT PERANG: MASYARAKAT LAMAHOLOT ADONARA DAN KONVENSI JENEWA 1949

Penulis

  • Hermanus Marang Temalur Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
  • Yustinus Pedo Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
  • Hilarius Horo Wura Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
  • Yohanes Arman Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Kata Kunci:

Lamaholot, Adonara, Perang Tanding, Konvensi Jenewa 1949, Perlindungan Subjek Dan Objek

Abstrak

Penelitian ini mengkaji aturan perang, subjek, dan objek yang dilindungi dalam konflik masyarakat Lamaholot di Pulau Adonara serta keterkaitannya dengan ketentuan Konvensi Jenewa 1949. Masyarakat Lamaholot memiliki tradisi perang tanding (Tuba Belo) yang biasanya terjadi akibat sengketa tanah antar suku atau kampung. Konflik ini tidak hanya menyangkut kepemilikan tanah tetapi juga kehormatan dan identitas suku. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, melibatkan studi pustaka, wawancara dengan tetua adat dan pemuka agama, serta observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek yang dilindungi meliputi para tetua adat, pemuka agama, perempuan, dan anak-anak. Aturan perang juga mencakup perlindungan terhadap anggota pasukan yang terluka atau gugur. Analisis menunjukkan bahwa prinsip-prinsip perlindungan ini sejalan dengan ketentuan Konvensi Jenewa 1949, yang menekankan perlindungan terhadap individu non-kombatan dan yang terluka dalam konflik. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana masyarakat adat merespons situasi perang, serta pentingnya perlindungan nilai-nilai kemanusiaan dan budaya dalam menjaga keberlangsungan komunitas mereka. Temuan ini memperkaya pemahaman tentang budaya dan sistem sosial masyarakat Lamaholot serta kontribusinya terhadap kajian hukum humaniter internasional.

This study examines the rules of war, and the subjects and objects protected during conflicts in the Lamaholot community on Adonara Island, and their relation to the provisions of the 1949 Geneva Conventions. The Lamaholot community practices traditional duel wars (Tuba Belo), typically arising from land disputes between tribes or villages. These conflicts involve not only land ownership but also the honor and identity of the tribe. This research employs a qualitative method with a descriptive-analytical approach, involving literature studies, interviews with traditional elders and religious leaders, and field observations. The results show that protected subjects include traditional elders, religious leaders, women, and children. The rules of war also encompass protection for wounded or fallen soldiers. Analysis indicates that these protection principles align with the provisions of the 1949 Geneva Conventions, which emphasize the protection of non-combatants and the wounded in conflicts. This study provides deep insights into how indigenous communities respond to war situations and the importance of protecting humanitarian and cultural values in preserving the continuity of their communities. These findings enrich the understanding of the culture and social system of the Lamaholot community and their contribution to the study of international humanitarian law.

Unduhan

Diterbitkan

2026-07-11