TELAAH EPISTEMOLOGIS PEMIKIRAN HASSAN HANAFI
Kata Kunci:
Hassan Hanafi, Humanisasi, Epistemologi Islam, Turath Wa Tajdid, Antroposentrisme, DekonstruksiAbstrak
Artikel ini bertujuan menganalisis secara kritis konsep "Humanisasi Ilmu Keislaman" (Humanization of Islamic Knowledge) yang diajukan oleh filsuf Mesir terkemuka, Hassan Hanafi, sebagai kerangka metodologis utama dalam proyek pembaharuan intelektualnya, Tradisi dan Pembaharuan (Turath wa Tajdid). Penelitian kualitatif ini menggunakan metode kajian kepustakaan (library research) dengan menerapkan pendekatan analisis filosofis dan kritik hermeneutika mendalam terhadap korpus karya-karya primer Hanafi, khususnya terkait teori kebangkitan kembali warisan (Revival of Turath). Temuan utama dari telaah ini menegaskan bahwa humanisasi dalam pemikiran Hanafi adalah sebuah dekonstruksi epistemologis radikal yang bertujuan mengubah orientasi pengetahuan Islam. Perubahan mendasar ini terjadi pada subjek dan objek pengetahuan, bergerak dari paradigma yang Teosentris (berpusat pada Tuhan, metafisika, dan teks an sich) menuju paradigma Antroposentris (berpusat pada akal, eksistensi, dan kesadaran historis manusia). Hanafi berargumentasi bahwa ilmu-ilmu keislaman harus disekularisasi secara kognitif agar berfungsi sebagai sarana aksiologis dan praksis yang efektif untuk menjawab tantangan dan krisis modern. Humanisasi menuntut penafsir untuk mengambil tanggung jawab historis atas setiap interpretasi, menjadikan keadilan sosial dan pembebasan manusia sebagai kriteria utama kebenaran ilmiah keagamaan. Sebagai kesimpulan, proyek humanisasi ini menawarkan jalan keluar yang inovatif dari kebuntuan pemikiran Islam kontemporer melalui reinterpretasi rasional dan kontekstual terhadap turath. Meskipun menyajikan potensi besar bagi revitalisasi keilmuan, upaya ini secara teologis memicu perdebatan serius terkait potensi relativisme etis dan batasan-batasan interpretasi yang dapat mengarah pada subyektivitas filosofis.
This article aims to critically analyze the concept of "Humanization of Islamic Knowledge" as proposed by the prominent Egyptian philosopher, Hassan Hanafi, serving as the central methodological framework in his intellectual renewal project, Heritage and Renewal (Turath wa Tajdid). This qualitative study employs a library research method, applying an approach of philosophical analysis and in-depth hermeneutic critique of the corpus of Hanafi's primary works, particularly those related to his theory of the revival of heritage (Revival of Turath). The main findings of this review confirm that humanization in Hanafi's thought is a radical epistemological deconstruction intended to shift the orientation of Islamic knowledge. This fundamental change occurs in the subject and object of knowledge, moving from a Theocentric paradigm (centered on God, metaphysics, and the text an sich) toward an Anthropocentric paradigm (centered on human reason, existence, and historical consciousness). Hanafi argues that the Islamic sciences must be cognitively secularized to function as an effective axiological and practical tool for addressing modern challenges and crises. Humanization demands that the interpreter assumes historical responsibility for every interpretation, making social justice and human liberation the primary criteria for religious scientific truth. In conclusion, this humanization project offers an innovative path out of the stagnation of contemporary Islamic thought through a rational and contextual reinterpretation of the turath. Despite presenting great potential for scholarly revitalization, this endeavor theologically triggers serious debate regarding the potential for ethical relativism and the limitations of interpretation that could lead to philosophical subjectivity.




