PERAN MODERASI BERAGAMA DALAM MENGATASI FENOMENA INTOLERANSI DI PANTI ASUHAN SRIMUJINAB PEKANBARU
Kata Kunci:
Moderasi Beragama, Intoleransi, Toleransi, Kerukunan, Panti AsuhanAbstrak
Fenomena intoleransi yang terjadi di Pekanbaru menjadi ancaman nyata bagi kehidupan sosial dan keberagaman bangsa, moderasi beragama muncul sebagai cara strategi untuk menanamkan nilai keseimbangan, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis perubahan pemahaman anak-anak terhadap nilai moderasi beragama sebagai upaya mencegah intoleransi setelah mengikuti sosialisasi di Panti Asuhan Srimujinab. Metode penelitian yang di gunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, melalui analisis berbagai referensi akademik, laporan kebijakan, dan jurnal ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum sosialisasi, peserta hanya memahami toleransi secara normatif dan belum mengenal moderasi beragama secara menyeluruh. Setelah sosialisasi, pemahaman peserta meningkat signifikan mereka menjadi mampu mengenali bentuk intoleransi sehari-hari dan menunjukkan sikap lebih terbuka, inklusif, serta bijak dalam berinteraksi secara sosial maupun digital. Dengan demikian, sosialisasi moderasi beragama terbukti efektif memperkuat sikap toleransi dan mencegah intoleransi pada anak-anak sebagai generasi penerus. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelaksanaan kegiatan serupa secara berkelanjutan di lembaga pendidikan dan panti asuhan untuk membangun budaya keberagaman yang harmonis di masyarakat.
The phenomenon of intolerance occurring in Pekanbaru poses a real threat to social life and national diversity. Religious moderation has emerged as a strategic way to instill the values of balance, tolerance, and respect for differences. This study aims to analyze changes in children's understanding of the value of religious moderation as an effort to prevent intolerance after participating in outreach at the Srimujinab Orphanage. The research method used was descriptive qualitative with a literature study approach, through various analyses of academic references, policy reports, and scientific journals. The results showed that before the outreach, participants only understood tolerance in a normative manner and did not yet understand religious moderation comprehensively. After the outreach, participants' understanding increased significantly; they became able to recognize everyday forms of intolerance and demonstrated a more open, inclusive, and wise attitude in social and digital interactions. Thus, the outreach of religious moderation has proven effective in strengthening attitudes of tolerance and preventing intolerance in children as the next generation. This study emphasizes the importance of implementing similar activities on an ongoing basis in educational institutions and orphanages to build a harmonious culture of diversity in society.




