KRITIK TERHADAP PARADIGMA DAN KONSEPSI SAINS BARAT
Kata Kunci:
Sains Barat, Paradigma Sains, Konsepsi Sains, Integrasi Sains Dan AgamaAbstrak
Perkembangan sains Barat modern telah memberikan kontribusi besar bagi kemajuan peradaban manusia melalui pencapaian teknologi dan ilmu pengetahuan. Namun, sains modern juga lahir dari paradigma filosofis tertentu, terutama rasionalisme, empirisme, dan positivisme, yang cenderung membatasi pengetahuan pada aspek empiris dan mengabaikan dimensi nilai, moral, serta spiritual. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji paradigma dan konsepsi dasar sains Barat, mengidentifikasi berbagai kritik filosofis, etis, dan religius terhadapnya, serta menawarkan konsep integrasi ilmu dan agama sebagai alternatif paradigma keilmuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif kepustakaan dengan teknik pengumpulan data berupa studi dokumen dan analisis data model Miles dan Huberman. Hasil kajian menunjukkan bahwa klaim objektivitas dan netralitas sains Barat bersifat problematis karena sains tidak pernah lepas dari konteks budaya dan worldview tertentu. Kritik dari para pemikir seperti Thomas Kuhn, Seyyed Hossein Nasr, Syed Muhammad Naquib al-Attas, dan Ziauddin Sardar menegaskan perlunya rekonstruksi paradigma sains agar lebih manusiawi dan bermakna. Oleh karena itu, integrasi ilmu dan agama dipandang sebagai pendekatan alternatif yang mampu melengkapi sains dengan dimensi etis dan spiritual, sehingga pengembangan ilmu pengetahuan tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologis, tetapi juga pada pembentukan peradaban yang berkeadaban.
The development of modern Western science has made a significant contribution to the advancement of human civilization through scientific and technological achievements. However, modern science emerged from particular philosophical paradigms—namely rationalism, empiricism, and positivism—which tend to restrict knowledge to empirical aspects while neglecting moral, ethical, and spiritual dimensions. This paper aims to examine the paradigm and fundamental conception of Western science, identify philosophical, ethical, and religious critiques of it, and propose the integration of science and religion as an alternative scientific paradigm. This study employs a qualitative library research approach, with data collected through document analysis and analyzed using the Miles and Huberman model. The findings indicate that the claims of objectivity and value-neutrality in Western science are problematic, as science is always embedded within specific cultural contexts and worldviews. Critiques from thinkers such as Thomas Kuhn, Seyyed Hossein Nasr, Syed Muhammad Naquib al-Attas, and Ziauddin Sardar emphasize the need for reconstructing the scientific paradigm to be more humane and meaningful. Therefore, the integration of science and religion is viewed as an alternative approach capable of complementing science with ethical and spiritual dimensions, ensuring that the development of knowledge is oriented not only toward technological progress but also toward the formation of a civilized and ethical human civilization.




