HARMONI BUDAYA DAN MAKNA RITUS LIKUP LEWOR PADA MASYARAKAT LAMAHOLOT DI DESA ATAKORE

Penulis

  • Bartolomeus Apa Lerek Institut Filsafat Dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Lusius Sneo Lasar Institut Filsafat Dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Wilfridus Fon Institut Filsafat Dan Teknologi Kreatif Ledalero
  • Stefanus Febrianto Raharjo Institut Filsafat Dan Teknologi Kreatif Ledalero

Kata Kunci:

Likup Lewor, Ritus Adat, Lera Wulan Tanah Ekan, Budaya Lokal, Simbolisme Kosmis, Harmoni Manusia, Budaya Dan Alam

Abstrak

Artikel ini membahas ritus Likup Lewor pada masyarakat Lamaholot di Desa Atakore sebagai salah satu warisan budaya yang mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan ilahi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tahapan pelaksanaan ritus, menganalisis makna simbolik di dalamnya, serta menjelaskan relevansi nilai budaya tersebut bagi kehidupan masyarakat Lamaholot saat ini. Melalui pendekatan deskriptif-kualitatif berbasis studi literatur dan wawancara adat, tulisan ini menguraikan proses persiapan ritual, peran para tokoh adat seperti Leben, Tuan Tanah, Mituak dan Temuhu Kenahin Alepei, serta penggunaan simbol-simbol sakral seperti balam, kemiri, tuak, darah babi, tanah dan air. Ritus Likup Lewor terbukti tidak hanya menjadi sarana perlindungan terhadap ancaman eksternal, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial, meneguhkan identitas budaya, dan menghidupkan keyakinan religius masyarakat melalui konsep kosmologis Lera Wulan Tanah Ekan. Simbolisme kosmis, praktik kolektif dan penghormatan kepada leluhur menjadikan ritus ini sebagai wujud nyata keseimbangan kosmis serta sarana pewarisan nilai budaya lintas generasi. Dengan demikian, Likup Lewor bukan hanya ritual adat, tetapi juga mekanisme sosial dan religius yang mempertahankan keharmonisan hidup masyarakat Lamaholot.

Unduhan

Diterbitkan

2026-02-28