BENTUK SOLIDARITAS SOSIAL WANITA RAWAN SOSIAL EKONOMI DALAM KEGIATAN PELATIHAN KETERAMPILAN DI UPTD PPS GRIYA WANITA MANDIRI
Kata Kunci:
Solidaritas Sosial, Wrse, Pemberdayaan Perempuan, Pelatihan KeterampilanAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE) menunjukkan solidaritas sosial mereka dalam pelatihan keterampilan yang diadakan di UPTD PPS Griya Wanita Mandiri. Selain itu, penelitian ini juga ingin mengetahui faktor-faktor yang dapat membantu atau menghambat terbentuknya solidaritas sosial tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara yang mendalam, pengamatan langsung, dan dokumentasi. Narasumber dalam penelitian ini terdiri dari lima orang penerima manfaat WRSE dan satu pekerja sosial yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa solidaritas sosial di kalangan perempuan WRSE terbentuk dalam dua jenis, yaitu solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Solidaritas mekanik muncul karena adanya kesamaan kondisi ekonomi dan pengalaman hidup. Sementara itu, solidaritas organik terlihat melalui kerja sama, berbagi pengetahuan, dan pembagian tugas sesuai kemampuan masing-masing peserta. Faktor pendukung meliputi kesamaan kondisi sosial ekonomi, intensitas interaksi yang tinggi, suasana yang nyaman, dan motivasi pribadi untuk berkembang. Faktor penghambat meliputi perbedaan latar belakang individu, tekanan ekonomi, dan perbedaan pendapat kecil. Solidaritas sosial menjadi kekuatan penting dalam mendukung proses pemberdayaan perempuan WRSE di UPTD PPS Griya Wanita Mandiri.
This study aims to understand how Women with Socio-Economic Vulnerability (WRSE) demonstrate social solidarity in skills training activities conducted at UPTD PPS Griya Wanita Mandiri. In addition, this study seeks to identify the factors that support and hinder the formation of social solidarity among the participants. This research employed a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, and documentation. The participants consisted of five WRSE beneficiaries and one social worker selected based on specific criteria. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. The results showed that social solidarity among WRSE women was formed in two types, namely mechanical solidarity and organic solidarity. Mechanical solidarity emerged because participants shared similar economic conditions and life experiences. Meanwhile, organic solidarity was reflected in the cooperation during training activities, including sharing knowledge and dividing tasks according to each participant's abilities. Supporting factors included similarities in socio-economic conditions, frequent interaction, a comfortable environment, and personal motivation. Inhibiting factors included differences in individual backgrounds, economic pressure, and minor disagreements. Overall, social solidarity became an important strength in supporting the empowerment process of WRSE women at UPTD PPS Griya Wanita Mandiri.




