MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PEMECAHAN MASALAH SEBAGAI STRATEGI PENGUATAN LITERASI DEMOKRASI SISWA DALAM MERESPONS DINAMIKA SOSIAL-POLITIK DI INDONESIA
Kata Kunci:
Problem Solving Learning, Pembelajaran Sosiologi, Literasi Demokrasi, Gejolak Sosial, Pendidikan Kewarganegaraan KritisAbstrak
Pemahaman siswa SMA terhadap nilai-nilai demokrasi pada umumnya masih bersifat dangkal dan terbatas pada penghafalan konsep semata, sehingga belum cukup untuk mendorong terbentuknya sikap kritis dalam menyikapi berbagai dinamika sosial-politik yang terus bergejolak di Indonesia. Keadaan ini menuntut hadirnya pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual, partisipatif, dan berorientasi pada pemecahan persoalan nyata. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana model Problem Solving Learning (PSL) diterapkan dalam pembelajaran sosiologi, mengidentifikasi hambatan yang muncul selama proses pelaksanaannya, serta menganalisis dampaknya terhadap pemahaman dan sikap demokratis siswa kelas XI dalam merespons fenomena gejolak massa di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilaksanakan di SMAN 1 Kauman, Tulungagung, Jawa Timur. Data dihimpun melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi yang melibatkan kepala sekolah, wakil kepala bidang kurikulum, guru sosiologi, dan siswa kelas XI sebagai narasumber utama. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber, metode, dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PSL dilaksanakan secara terstruktur melalui lima tahapan: orientasi terhadap masalah nyata, identifikasi persoalan, diskusi kelompok disertai penelusuran informasi, presentasi hasil analisis, dan refleksi bersama. Proses ini mendapat dukungan penuh dari kebijakan kelembagaan sekolah. Tiga tantangan utama ditemukan, yaitu ketimpangan keterlibatan siswa dalam dinamika kelompok, keterbatasan alokasi waktu pembelajaran, dan rendahnya kemampuan literasi informasi digital di kalangan siswa. Meski demikian, penerapan PSL terbukti membawa perubahan yang signifikan: pemahaman siswa tentang demokrasi berkembang melampaui sekadar definisi normatif menuju pemahaman yang kontekstual dan analitis; sikap mereka terhadap gejolak massa bergeser dari reaktif-emosional menjadi lebih kritis dan reflektif; serta tumbuh kesadaran diri sebagai warga negara yang aktif dan bertanggung jawab. Penelitian ini menyimpulkan bahwa PSL merupakan strategi pembelajaran yang efektif untuk membangun literasi demokrasi yang fungsional pada siswa SMA. Disarankan agar PSL diintegrasikan secara sistematis dalam kurikulum sosiologi, disertai penguatan kompetensi literasi digital serta pengelolaan dinamika kelompok yang lebih inklusif. Penelitian lanjutan sebaiknya menggunakan desain longitudinal untuk mengukur keberlanjutan dampak PSL terhadap pembentukan sikap demokratis siswa dalam jangka panjang.
Senior high school students' comprehension of democratic values remains largely superficial and confined to rote memorization, rendering it insufficient to cultivate critical attitudes toward the ever-evolving socio-political dynamics in Indonesia. This condition necessitates a more contextual, participatory, and problem-oriented learning approach. This study aims to examine how the Problem Solving Learning (PSL) model is implemented in sociology instruction, identify challenges encountered during its application, and analyze its impact on the democratic understanding and attitudes of eleventh-grade students in responding to mass unrest phenomena in Indonesia. A qualitative approach with a case study design was employed at SMAN 1 Kauman, Tulungagung, East Java. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation involving the principal, vice principal for curriculum, sociology teacher, and eleventh-grade students as primary informants. Data validity was ensured through source, method, and theory triangulation. The findings reveal that PSL was implemented through five structured stages: orientation to real problems, problem identification, group discussion with information retrieval, analysis presentation, and joint reflection. This process received full institutional support from the school. Three primary challenges were identified: unequal student participation in group dynamics, limited instructional time allocation, and insufficient digital information literacy among students. Nevertheless, PSL implementation yielded significant changes: students' understanding of democracy evolved from normative definitions toward contextual and analytical comprehension; their attitudes toward mass unrest shifted from reactive-emotional to more critical and reflective; and a growing awareness of themselves as active and responsible citizens emerged. This study concludes that PSL is an effective learning strategy for building functional democratic literacy in senior high school students. It is recommended that PSL be systematically integrated into sociology curricula, accompanied by strengthened digital literacy competencies and more inclusive group dynamic management. Future research should employ longitudinal designs to measure the sustained impact of PSL on students' democratic attitude formation.




