MAKNA SOSIAL MOTIF KAIN TENUN MASYARAKAT SABU: STUDI KASUS PADA KOMUNITAS SABU MESARA DI KELURAHAN BELLO, KOTA KUPANG

Penulis

  • Damaris Riwu Universitas Nusa Cendana
  • Leny Sofia Bire Manoe Universitas Nusa Cendana
  • Imanta I. Perangin Angin Universitas Nusa Cendana

Kata Kunci:

Kain Tenun Sabu, Motif Tenun, Makna Sosial, Identitas Klan, Budaya Lokal

Abstrak

Penelitian ini mengkaji makna sosial motif pada kain tenun masyarakat Sabu serta perannya dalam merepresentasikan identitas kekerabatan dan nilai budaya masyarakat. Kain tenun tradisional dalam masyarakat Sabu tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, tetapi juga sebagai simbol sosial yang mengandung makna budaya, sejarah, dan sistem kekerabatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis makna sosial motif kain tenun pada komunitas Sabu Mesara di Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan penelitian berjumlah delapan orang yang terdiri dari perempuan penenun, pengguna kain tenun, pengrajin, dan tokoh masyarakat yang memahami makna budaya motif tenun. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif kain tenun seperti ruwangngu pada kain Ai Raja dan kebeba pada kain Ai Led’o berfungsi sebagai penanda identitas klan Hubi Ae dan Hubi Iki dalam sistem kekerabatan masyarakat Sabu. Motif-motif tersebut juga merepresentasikan nilai keberanian, kesetiaan, serta hubungan manusia dengan alam yang menjadi sumber inspirasi penciptaan motif. Dengan demikian, kain tenun tidak hanya berfungsi sebagai karya estetika, tetapi juga sebagai media komunikasi simbolik yang menjaga identitas sosial, nilai budaya, serta memori kolektif masyarakat Sabu.

This study examines the social meanings of motifs in Sabu traditional woven textiles and their role in representing kinship identity and cultural values within the community. In Sabu society, traditional woven cloth functions not merely as clothing but also as a cultural symbol containing historical, social, and genealogical meanings. The research aims to describe and analyze the social meanings embedded in weaving motifs among the Sabu Mesara community in Bello Village, Maulafa District, Kupang City. This study employed a qualitative descriptive approach with data collected through field observation, in-depth interviews, and documentation. The research involved eight informants consisting of female weavers, textile users, artisans, and community elders who possess knowledge about the cultural meanings of weaving motifs. Data were analyzed through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that motifs such as ruwangngu in Ai Raja cloth and kebeba in Ai Led’o cloth function as markers of clan identity, particularly Hubi Ae and Hubi Iki, within the Sabu kinship system. These motifs also symbolize cultural values such as courage, loyalty, and the relationship between humans and nature as a source of creative inspiration. Therefore, Sabu woven textiles serve not only as aesthetic cultural products but also as symbolic media that preserve social identity, cultural values, and collective memory within the Sabu community.

Unduhan

Diterbitkan

2026-04-02