PENGEMBANGAN PRODUK KERAJINAN "BATOA" (BATOK PAPUA) BERBASIS KEARIFAN LOKAL PAPUA UNTUK MENINGKATKAN NILAI EKONOMI BATOK KELAPA

Penulis

  • Fensca F. Lahallo Universitas Viktory Sorong
  • Muhammad Alifatkur Universitas Viktory Sorong
  • Ita Universitas Viktory Sorong
  • Nolisa Y Sawisa Universitas Viktory Sorong
  • Edward E Litaay Universitas Viktory Sorong

Kata Kunci:

Ekonomi Kreatif, Limbah Organik, Batok Kelapa, Kearifan Lokal, Break Even Point, UMKM.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk kerajinan BATOA (Batok Papua) sebagai alternatif ekonomi kreatif berbasis limbah organik dan kearifan lokal Papua. Produk ini merupakan hasil inovasi pemanfaatan batok kelapa yang dipadukan dengan motif-motif khas Papua untuk menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus melestarikan budaya lokal. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan tahapan meliputi identifikasi potensi bahan baku, perancangan desain produk, proses pembuatan, analisis biaya produksi, dan perhitungan Break Even Point (BEP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya produksi per unit adalah Rp204.080,00 dengan harga jual Rp150.000,00 per unit. Analisis BEP membuktikan bahwa titik impas usaha berada pada 1,34 unit, menunjukkan prospek ekonomi yang menguntungkan. Proyeksi keuangan menunjukkan pada produksi 10 unit dihasilkan laba Rp862.500,00, sedangkan pada 20 unit meningkat menjadi Rp1.858.700,00. Penelitian ini membuktikan bahwa inovasi produk berbasis limbah alam dan kearifan lokal dapat menjadi model pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan, khususnya untuk pengembangan UMKM di Papua. Produk BATOA tidak hanya memberikan manfaat ekonomi tetapi juga kontribusi sosial dan budaya melalui pelestarian motif tradisional Papua.

This research aims to develop BATOA (Batok Papua) craft products as an alternative creative economy based on organic waste and Papuan local wisdom. This product is the result of innovative use of coconut shell combined with characteristic Papuan motifs to create economic added value while preserving local culture. The research method uses descriptive quantitative approach with stages including identification of raw material potential, product design planning, manufacturing process, production cost analysis, and Break Even Point (BEP) calculation. Research results show that the total cost of production per unit is Rp204,080.00 with a selling price of Rp150,000.00 per unit. BEP analysis proves that the break-even point of the business is at 1.34 units, indicating promising economic prospects. Financial projections show that at 10 units production, profit is generated at Rp862,500.00, while at 20 units it increases to Rp1,858,700.00. This research proves that product innovation based on natural waste and local wisdom can be a model for sustainable community economic empowerment, particularly for UMKM development in Papua. BATOA products not only provide economic benefits but also contribute to social and cultural aspects through the preservation of traditional Papuan motifs.

Unduhan

Diterbitkan

2026-07-30