EVALUASI JENIS TAMBALAN PENUH DAN TAMBALAN DANGKAL TERHADAP KERUSAKAN ULANG PADA RUAS JALAN NASIONAL MAKASSAR-PAREPARE DESA MANDALLE KECAMATAN MANDALLE KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN

Penulis

  • Syahril Universitas Muhammadiyah Enrekang
  • Muflihah Mantasa Universitas Muhammadiyah Enrekang
  • Inarmiwati Universitas Muhammadiyah Enrekang

Kata Kunci:

Kerusakan Ulang, Tambalan Penuh, Tambalan Dangkal, Perkerasan Lentur, Jalan Nasional

Abstrak

Kerusakan jalan merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi pada perkerasan lentur, terutama pada ruas jalan nasional dengan volume lalu lintas yang tinggi. Untuk menjaga kondisi jalan tetap layak digunakan, dilakukan berbagai metode perbaikan, di antaranya tambalan penuh (full-depth patching) dan tambalan dangkal (shallow patching). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi kerusakan ulang setelah pelaksanaan tambalan penuh dan tambalan dangkal, membandingkan tingkat kerusakan ulang yang terjadi pada kedua jenis tambalan, serta menentukan jenis tambalan yang lebih efektif dalam mengurangi kerusakan ulang pada Ruas Jalan Nasional Makassar–Parepare di Desa Mandalle, Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif melalui survei lapangan, pengukuran kerusakan, dokumentasi, dan wawancara dengan pihak terkait. Data yang diperoleh dianalisis dengan mengidentifikasi jenis kerusakan ulang yang muncul pada lokasi tambalan penuh dan tambalan dangkal, kemudian membandingkan tingkat kerusakan yang terjadi pada masing-masing metode perbaikan. Hasil penelitian tambalan penuh terdapat kerusakan ulang berupa retakan pada (STA 1+000-1+000) penanganan kerusakan retakan tersebut dilakukan dengan membongkar seluruh lapisan perkerasan yang mengalami kerusakan hingga mencapai lapisan yang masih baik, kemudian menggantinya dengan material baru sesuai struktur perkerasan yang direncanakan, sebaliknya pada tambalan dangkal hanya memperbaiki lapisan permukaan tanpa menangani kerusakan yang mungkin telah terjadi pada lapisan di bawahnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tambalan penuh memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan tambalan dangkal karena lebih efektif mengurangi kerusakan ulang dan memberikan umur layan perkerasan yang lebih panjang.

Road deterioration is a common problem in flexible pavements, particularly on national roads with high traffic volumes. To maintain pavement serviceability, various repair methods are applied, including full-depth patching and shallow patching. This study aimed to evaluate recurrent pavement damage after the implementation of full-depth and shallow patching, compare the level of recurrent damage between the two repair methods, and determine the more effective method for reducing recurrent pavement damage on the Makassar–Parepare National Road in Mandalle Village, Mandalle District, Pangkajene and Islands Regency, Indonesia.This research employed a quantitative descriptive method through field surveys, pavement damage measurements, documentation, and interviews with relevant stakeholders. The collected data were analyzed by identifying the types of recurrent damage occurring on full-depth and shallow patch repairs and comparing the damage levels associated with each repair method. The results showed that recurrent damage in full-depth patching was primarily in the form of cracks at STA 1+000–1+000. The repair involved removing the entire damaged pavement layer down to the sound underlying layer and reconstructing it with new materials according to the designed pavement structure. In contrast, shallow patching repaired only the surface layer without addressing damage in the underlying pavement layers. Therefore, full-depth patching demonstrated better performance than shallow patching, as it was more effective in reducing recurrent pavement damage and provided a longer pavement service life.

Unduhan

Diterbitkan

2026-07-30