KETEPATAN MENJELASKAN JARINGAN ULAMA NUSANTARA, SYEKH ABD AL-MAJID JAMBI, DAN ABD ASH SOMAD

Penulis

  • Karin Gayatri Manurung Universitas Jambi
  • Nella Siska Universitas Jambi
  • Nabilla Jihan Sakinah Universitas Jambi
  • Fatonah Nurdin Universitas Jambi
  • Nirwan Il Yasin Universitas Jambi

Kata Kunci:

Jaringan Ulama Nusantara, Jambi, Sejarah Intelektual, Sanad, Abdul Somad, Kritik Sumber

Abstrak

Kajian ini menelaah bagaimana jaringan ulama Nusantara dapat dijelaskan secara tepat melalui pendekatan sejarah intelektual, dengan perhatian khusus pada penyebutan Syekh Abd al-Majid Jambi dan Abd Ash Somad. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan, pembacaan kritis literatur sekunder, serta evaluasi keterlacakan identitas dan hubungan keilmuan. Literatur tentang ulama Melayu-Indonesia menunjukkan bahwa mobilitas ke Haramain, transmisi kitab, relasi guru– murid, dan pembentukan lembaga pendidikan merupakan unsur penting jaringan tersebut. Namun, keterhubungan dua tokoh yang disebut dalam judul tidak dapat dianggap terbukti hanya berdasarkan kesamaan identitas keagamaan atau lokasi. Kajian ini membedakan temuan yang didukung literatur dari pertanyaan biografis yang masih terbuka. Kontribusi utamanya adalah kerangka verifikasi berbasis sumber, kronologi, dan sanad agar penulisan sejarah keulamaan lebih cermat dan terhindar dari anakronisme.

This study examines how the networks of Islamic scholars in the Indonesian Archipelago (Nusantara) can be accurately explained through an intellectual history approach, with particular attention to the identification of Sheikh Abd al-Majid Jambi and Abd Ash Somad. The research employs a literature review, critical analysis of secondary sources, and an evaluation of the verifiability of scholarly identities and intellectual relationships. Literature on Malay-Indonesian Islamic scholars indicates that scholarly mobility to the Haramain (Mecca and Medina), the transmission of Islamic texts, teacher–student relationships, and the establishment of educational institutions were essential elements in the development of these networks. However, the intellectual connections between the two figures mentioned in the title cannot be considered established solely on the basis of their shared religious identities or geographical associations. This study distinguishes findings supported by scholarly literature from biographical questions that remain unresolved. Its main contribution is a source-based verification framework that emphasizes historical chronology and chains of scholarly transmission (sanad) to promote greater accuracy in Islamic intellectual historiography and prevent anachronistic interpretations.

Unduhan

Diterbitkan

2026-10-31