ANALISIS KOMPARATIF EARNINGS PER SHARE BERDASARKAN PSAK 233 DAN IAS 33 PADA PT BANK CENTRAL ASIA TBK.

(Studi Kasus atas Data Kinerja Tahun Buku 2024 dan 2025)

Penulis

  • Steven Leonardo Program Studi Magister Akuntansi, Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie, Jakarta, Indonesia
  • Rimi Gusliana Mais Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Jakarta

Kata Kunci:

Earnings Per Share, PSAK 233, IAS 33, BCA, Diluted EPS, Value Relevance, Perbankan, Laporan Keuangan 2025

Abstrak

Penelitian ini menganalisis secara komparatif perhitungan dan penyajian earnings per share (EPS) berdasarkan PSAK 233 dan IAS 33 pada PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) dengan menggunakan data kinerja tahun buku 2024 dan 2025. Perbandingan dua tahun diperlukan karena PSAK 233 berlaku dalam struktur penomoran SAK Indonesia sejak 1 Januari 2024, sehingga analisis yang lebih kuat tidak cukup hanya memeriksa satu periode, tetapi perlu menilai konsistensi penerapan standar dan perubahan EPS pada dua tahun buku setelah penomoran baru berlaku. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus, content analysis, dan verifikasi numerik atas Laporan Tahunan BCA 2024, Laporan Tahunan BCA 2025, Laporan Keuangan Konsolidasian BCA 31 Desember 2024 dan 2023, serta Laporan Keuangan Konsolidasian BCA 31 Desember 2025 dan 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EPS BCA meningkat dari Rp445 pada 2024 menjadi Rp467 pada 2025. Kenaikan tersebut terutama berasal dari peningkatan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk dari Rp54,836 triliun menjadi Rp57,537 triliun, sedangkan rata-rata tertimbang saham biasa sedikit menurun dari 123,275 miliar saham menjadi 123,245 miliar saham setelah memperhitungkan pembelian kembali saham. Basic EPS dan diluted EPS sama pada kedua tahun karena tidak terdapat instrumen yang berpotensi menjadi saham biasa. Temuan ini menunjukkan bahwa penyajian EPS BCA konsisten dan sesuai secara teknis dengan PSAK 233/IAS 33, tetapi EPS tetap harus dibaca bersama indikator perbankan lain seperti book value per share, kualitas aset, risiko kredit, cadangan kerugian penurunan nilai, rasio permodalan, dan informasi nilai wajar.

This study comparatively analyzes the calculation and presentation of earnings per share (EPS) under PSAK 233 and IAS 33 at PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) using financial performance data for fiscal years 2024 and 2025. A two-year comparison is necessary because PSAK 233 has been applicable within the revised numbering structure of Indonesian Financial Accounting Standards since January 1, 2024; therefore, a stronger analysis should not only examine one period but also assess consistency in applying the standard and changes in EPS across two fiscal years after the revised numbering became effective. This study applies a qualitative descriptive approach using a case study design, content analysis, and numerical verification of BCA Annual Report 2024, BCA Annual Report 2025, BCA Consolidated Financial Statements as of December 31, 2024 and 2023, and BCA Consolidated Financial Statements as of December 31, 2025 and 2024. The findings show that BCA EPS increased from Rp445 in 2024 to Rp467 in 2025. The increase was mainly driven by net income attributable to owners of the parent, which rose from Rp54.836 trillion to Rp57.537 trillion, while the weighted average number of ordinary shares slightly declined from 123.275 billion shares to 123.245 billion shares after considering share repurchases. Basic EPS and diluted EPS were equal in both years because there were no instruments potentially convertible into ordinary shares. These findings indicate that BCA consistently presented EPS in technical compliance with PSAK 233/IAS 33. Nevertheless, EPS should still be interpreted together with other banking indicators, including book value per share, asset quality, credit risk, allowance for impairment losses, capital adequacy, and fair value information.

Unduhan

Diterbitkan

2026-05-31