PENERAPAN TERAPI OKUPASI MENGGAMBAR TERHADAP FREKUENSI HALUSINASI PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI DI RSJD DR. ARIF ZAINUDDIN

Penulis

  • Endri Mutia Widiana Universitas 'Aisyiyah Surakarta
  • Norman Wijaya Gati Universitas 'Aisyiyah Surakarta
  • Tri Andri Pujiyanti Universitas 'Aisyiyah Surakarta

Kata Kunci:

Halusinasi, Terapi Okupasi Menggambar, Gangguan Persepsi Sensori, Keperawatan Jiwa

Abstrak

Latar Belakang: Halusinasi merupakan gejala dominan pada pasien dengan gangguan persepsi sensori yang dapat menurunkan fungsi sosial serta meningkatkan risiko perilaku berbahaya. Penatalaksanaan tidak hanya berfokus pada terapi farmakologis, tetapi juga memerlukan intervensi nonfarmakologis sebagai terapi pendukung. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas terapi okupasi menggambar terhadap frekuensi halusinasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif dengan pendekatan pretest–posttest pada dua pasien di RSJD Dr. Arif Zainuddin Surakarta. Pengukuran tingkat halusinasi dilakukan menggunakan Auditory Hallucinations Rating Scale (AHRS) sebelum dan sesudah intervensi. Terapi okupasi menggambar diberikan dua kali sehari selama tiga hari berturut-turut sesuai prosedur standar. Hasil: Hasil menunjukkan adanya penurunan skor halusinasi pada kedua responden, yaitu dari 33 (kategori berat) menjadi 11 (kategori ringan) dan dari 34 (kategori sangat berat) menjadi 13 (kategori sedang). Pembahasan singkat: Terapi ini bekerja melalui mekanisme distraksi, peningkatan konsentrasi, serta fasilitasi ekspresi emosional yang lebih adaptif. Kesimpulan: Terapi okupasi menggambar efektif sebagai intervensi nonfarmakologis dalam menurunkan frekuensi halusinasi. Terapi ini dapat direkomendasikan dalam asuhan keperawatan jiwa karena mudah diimplementasikan, terstruktur, dan dapat melibatkan tenaga kesehatan maupun keluarga sehingga mendukung keberlanjutan terapi serta meningkatkan kualitas hidup pasien secara optimal.

Background: Hallucinations are a dominant symptom in patients with sensory perception disorders that can reduce social functioning and increase the risk of dangerous behavior. Management is not only focused on pharmacological therapy but also requires non-pharmacological interventions as supportive therapy. Objective: This study aimed to analyze the effectiveness of drawing occupational therapy on the frequency of hallucinations. Methods: This study used a descriptive case study design with a pretest–posttest approach on two patients at RSJD Dr. Arif Zainuddin Surakarta. The level of hallucinations was measured using the Auditory Hallucinations Rating Scale (AHRS) before and after the intervention. Drawing occupational therapy was conducted twice daily for three consecutive days according to standard procedures. Results: The results showed a decrease in hallucination scores in both respondents, from 33 (severe category) to 11 (mild category) and from 34 (very severe category) to 13 (moderate category). Brief Discussion: This therapy works through distraction mechanisms, increased concentration, and facilitation of more adaptive emotional expression. Conclusion: Drawing occupational therapy is effective as a non-pharmacological intervention in reducing the frequency of hallucinations. This therapy can be recommended in psychiatric nursing care because it is easy to implement, structured, and can involve healthcare providers as well as family members, thereby supporting the sustainability of therapy and improving patients’ quality of life optimally.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-30