MAKNA MOTIF KAIN TENUN IKAT MASYARAKAT DESA TESA KECAMATAN LAENMANEN KABUPATEN MALAKA

Penulis

  • Delviana Lotu Universitas Persatuan Guru 1945 NTT
  • John Darwis Fallo Universitas Persatuan Guru 1945 NTT
  • Sanhedri Boimau Universitas Persatuan Guru 1945 NTT
  • Ronni M. Ndun Universitas Persatuan Guru 1945 NTT

Kata Kunci:

Makna, Motif, Kain Tenun Ikat, Semiotika

Abstrak

Skripsi berjudul, “Makna Motif Kain Tenun Ikat Masyarakat Desa Tesa Kecamatan Laenmanen Kabupaten Malaka, ditulis oleh Delviana Lotu, NIM.2288201016 yang telah dibimbing oleh Bapak John Darwis Fallo, S.Pd., M.Pd., selaku dosen pembimbing I dan Bapak Sanhedri Boimau, S.Pd., M.Hum., selaku dosen pembimbing II. Rumusan masalah penelitian ini adalah makna apa saja yang terkandung dalam motif kain tenun ikat pada masyaraakat Desa Tesa Kecamatan Laenmanen Kabupaten Malaka? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna yang terkandung dalam motif kain tenun ikat masyarakat Desa Tesa, Kecamatan Laenmanen, Kabupaten Malaka. Penelitian ini menggunakan teori semiotika untuk mengkaji makna simbolik yang terdapat pada setiap motif tenun ikat. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, perekaman, dan dokumentasi dengan informan yang terdiri atas penenun, tokoh adat, dan masyarakat setempat. Teknik analisis data dilakukan melalui tahap transkripsi data, terjemahan, analisis, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kain tenun ikat masyarakat Desa Tesa memiliki 5 (lima) motif khas, yaitu motif futus manu, futus rarutu,  fut be’e,  fut kakai, dan fut bolas. futus manu mengandung makna simbolik. Motif futus manu melambangkan keberanian, kewaspadaan, dan semangat hidup karena ayam dikenal sebagai hewan yang aktif serta memiliki sifat berani dalam mempertahankan diri maupun kelompoknya. fut rarutu mengandung makna moral. Motif ini mengandung  pesan bahwa manusia harus mampu menghadapi tantangan hidup dengan sikap sabar, kuat dan tidak mudah menyerah  dalam berbagai kesulitan hidup. Futus be’e mengandung makna relegius berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terhadap buaya sebagai makhluk yang memiliki kekuatan tertentu. Dalam konteks budaya, buaya sering dipandang sebagai penjaga wilayah perairan dan memiliki kekuatan. fut kakai mengandung makna sosial pada motif fut kakai berkaitan dengan hubungan antar individu dalam kehidupan masyarakat. Bentuk akar pohon yang menjalar dan saling terhubung mencerminkan ikatan kekeluargaan dan kebersamaan yang erat dalam masyarakat Desa Tesa. fut bolas mengandung makna historis pada motif fut bolas berkaitan dengan keberadaan motif ini sebagai bagian dari warisan budaya yang telah digunakan sejak lama oleh masyarakat Desa Tesa.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-30