PERAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI MEDIA EDUKASI DALAM PENGEMBANGAN TEKNOLOGI ENERGI TERBARUKAN

Penulis

  • Asnah Auliya Syadhidah Universitas Pendidikan Indonesia
  • Istaz Yafi Izdihar Universitas Pendidikan Indonesia
  • Mochamad Lutfi Alfandi Universitas Pendidikan Indonesia
  • Nailan Mazaya Setiawan Universitas Pendidikan Indonesia
  • Zahra Nasywa Wafiqah Universitas Pendidikan Indonesia
  • Mochamad Whilky Rizkyanfi Universitas Pendidikan Indonesia

Kata Kunci:

Energi Terbarukan, Bahasa Indonesia, Media Edukasi, Literasi Sains, Adopsi Teknologi

Abstrak

Indonesia menghadapi kesenjangan signifikan antara potensi energi terbarukan (EBT) yang mencapai 3.692 gigawatt dan kapasitas terpasang yang baru sebesar 14,8 GW pada 2024, dengan realisasi bauran EBT hanya 14,1 persen dari target 19,5 persen. Di balik kesenjangan tersebut, terdapat hambatan struktural berupa rendahnya literasi teknologi masyarakat dan keterbatasan akses terhadap pengetahuan teknis yang salah satunya disebabkan oleh dominasi bahasa Inggris dalam publikasi ilmiah global. Penelitian ini mengkaji peran Bahasa Indonesia sebagai media edukasi dalam mendukung percepatan pengembangan dan adopsi teknologi EBT, mencakup dimensi kebijakan kebahasaan, potensi literasi sains berbahasa nasional, dan relevansinya bagi diseminasi teknologi kepada berbagai lapisan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner terstruktur berbasis Google Form yang melibatkan lima mahasiswa dari program studi berbeda di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola persepsi responden mengenai efektivitas, hambatan, dan solusi penggunaan Bahasa Indonesia dalam edukasi EBT. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Bahasa Indonesia diakui efektif sebagai media pengenalan konsep EBT kepada masyarakat umum, namun dinilai belum optimal untuk penyampaian konsep teknis mendalam tanpa disertai istilah asli berbahasa Inggris. Hambatan utama mencakup minimnya padanan istilah teknis yang baku, ketidakseragaman terminologi antarmedium edukasi yang menimbulkan hambatan kognitif, serta gaya penyampaian yang terlalu formal. Mayoritas responden merekomendasikan pendekatan bilingual yang mempertahankan istilah teknis dalam bahasa Inggris dengan penjelasan dalam Bahasa Indonesia yang lugas, didukung penyusunan glosarium teknis terstandarisasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa optimalisasi Bahasa Indonesia sebagai media edukasi EBT memerlukan sinergi antara standardisasi terminologi, pengembangan metode penyampaian yang kreatif dan kontekstual, serta integrasi ke dalam ekosistem literasi sains nasional yang inklusif.

Indonesia faces a significant gap between its renewable energy (RE) potential of 3,692 gigawatts and its installed capacity of only 14.8 GW in 2024, with a RE mix realization of merely 14.1 percent against a 19.5 percent target. Underlying this gap is a structural barrier in the form of low public technology literacy and limited access to technical knowledge, partly attributable to the dominance of English in global scientific publications. This study examines the role of the Indonesian language as an educational medium in accelerating the development and adoption of RE technology, encompassing dimensions of language policy, the potential of national-language science literacy, and its relevance to technology dissemination across various segments of society. The study employed a qualitative approach, collecting data through a structured Google Form questionnaire involving five students from different study programs at Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Data were analyzed thematically to identify response patterns regarding the effectiveness, challenges, and solutions related to using Indonesian in RE education. The findings reveal that Indonesian is recognized as effective for introducing RE concepts to the general public, yet is considered suboptimal for conveying in-depth technical content without the inclusion of original English technical terms. Key challenges include a lack of standardized technical term equivalents, inconsistent terminology across educational media causing cognitive barriers, and overly formal presentation styles. Most respondents recommended a bilingual approach retaining English technical terms alongside plain Indonesian explanations, supported by the development of a standardized technical glossary. The study concludes that optimizing Indonesian as an RE educational medium requires a synergy of terminology standardization, creative and contextual delivery methods, and integration into an inclusive national science literacy ecosystem.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-30