PEMENTASAN WAYANG KULIT DENGAN LAKON CUPAK KE SWARGAN OLEH DALANG I PUTU GEDE SURYANATA DALAM AJANG PESTA KESENIAN BALI DI ART CENTER DENPASAR TAHUN 2024
Kata Kunci:
Pementasan Wayang Kulit, Fungsi Pementasan Wayang Kulit, , Tiga Kerangka Dasar Agama HinduAbstrak
Bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan di semua perguruan tinggi dan jurusan. Kesalahan bahasa masih sering terjadi, baik secara lisan maupun tulisan. Dalam artikel ini, kita akan melihat bagaimana aturan semantik dan sintaksis digunakan dalam bahasa Indonesia. Pementasan wayang kulit dengan lakon Cupak ke Swargan dalam ajang Pesta Kesenian Bali tahun 2024 berperan sebagai medium simbolik yang menampung memori budaya, ekspresi estetik, serta kedalaman spiritual. Pertunjukan ini dibangun untuk melampaui fungsi hiburan semata melalui penyampaian ajaran moral, etika, dan refleksi tentang pencarian jati diri manusia. Di balik alur cerita perjalanan tokoh, tersusun gagasan tentang bagaimana manusia menghadapi tantangan hidup dan menyusun keselarasan batin melalui nilai-nilai Catur Sanak serta praktik pengelukatan sebagai bentuk pemurnian rohani dan jasmani. Fokus utama dalam penelitian ini diarahkan pada pertimbangan pemilihan lakon Cupak ke Swargan, karena kesesuaian tema Pesta Kesenian Bali, yaitu Jana Kerti yang memiliki arti penguatan harkat dan martabat manusia yang menjadi landasan konseptual yang kuat. Lakon yang digunakan selaras dengan arahan dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Pementasan ini dianalisis sebagai rangkaian tindakan komunikatif yang memiliki beberapa fungsi, yaitu fungsi estetika, fungsi hiburan, dan fungsi pendidikan. Estetika tampak pada penataan bayangan wayang, ritme cepala (ketukan kaki seorang dalang), kualitas vokal, dan iringan musik. Fungsi hiburan muncul melalui dialog dan gerak yang menghadirkan kelucuan serta dinamika karakter. sedangkan pendidikan diwujudkan melalui ajaran Tiga Kerangka Dasar agama Hindu yang terdapat dalam pementasan. Teori pementasan dipahami melalui aspek dramaturgi, fungsi Teori Fungsional Struktural, serta teori nilai. Ajaran Tiga Kerangka Dasar agama Hindu yaitu Tattwa, Susila, dan Acara, ajaran ini tercermin dalam konstruksi pesan, transformasi perilaku tokoh, serta tata prosesi sebelum dan sesudah pementasan. Oleh karena itu, lakon ini menegaskan bahwa seni pertunjukan dapat menjadi ruang pembentukan karakter, penguatan martabat manusia, dan pemeliharaan warisan nilai budaya.
The shadow puppet performance "Cupak ke Swargan" (Shadow puppetry) at the 2024 Bali Arts Festival serves as a symbolic medium that conveys cultural memory, aesthetic expression, and spiritual depth. This performance was designed to transcend mere entertainment by conveying moral and ethical teachings and reflections on the search for human identity. Behind the storyline, which depicts the characters' journeys, are concepts about how humans face life's challenges and establish inner harmony through the values of the Catur Sanak (Catur Sanak) and the practice of pengelukatan (pupiling) as a form of spiritual and physical purification. This research focuses primarily on the selection of the play "Cupak ke Swargan," due to its relevance to the Jana Kerti celebration, which signifies strengthening human dignity and serves as a strong conceptual foundation. The play aligns with the direction of the Bali Provincial Cultural Office. This performance is analyzed as a series of communicative acts that serve several functions: aesthetic, entertainment, and educational. Aesthetics are evident in the arrangement of the shadow puppets, the rhythm of the cepala (the foot-tapping of a puppeteer), vocal quality, and musical accompaniment. Entertainment emerges through dialogue and movement that present humor and character dynamics; while education is realized through the teachings of the Three Basic Frameworks of Hinduism contained in the performance. Performance theory is understood through dramaturgical aspects, socio-cultural functions, and value theory. The teachings of the Three Basic Frameworks of Hinduism, Tattwa, Susila, and Acara, are reflected in the construction of messages, the transformation of character behavior, and the pre- and post-performance processions. Therefore, this play emphasizes that performing arts can be a space for character formation, strengthening human dignity, and preserving cultural heritage




