PENGGUNAAN BAHASA BAKU DAN TIDAK BAKU DALAM MEDIA SOSIAL
Kata Kunci:
Bahasa Baku, Bahasa Tidak Baku, Media Sosial, Komunikasi Digital, SosiolinguistikAbstrak
Media sosial telah menjadi ruang komunikasi utama di era digital, yang secara signifikan memengaruhi dinamika kebahasaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan bahasa baku dan tidak baku dalam media sosial serta dampaknya terhadap eksistensi bahasa Indonesia. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis isi (content analysis), data diambil dari sampel unggahan dan komentar pengguna di platform Instagram, Twitter (X), dan TikTok selama periode awal tahun 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ragam bahasa tidak baku—seperti singkatan, slang, bahasa prokem, dan pencampuran kode (code-mixing)—mendominasi interaksi informal karena dinilai lebih ekspresif, efisien, dan santai. Sebaliknya, bahasa baku tetap dipertahankan dalam konteks formal, seperti akun resmi pemerintahan, berita, dan edukasi. Pembahasan dalam artikel ini menyoroti bahwa fenomena ini merupakan bentuk adaptasi linguistik yang wajar dalam komunikasi digital, namun memerlukan perhatian agar tidak mengikis pemahaman generasi muda terhadap kaidah bahasa yang benar. Kesimpulan menekankan pentingnya konsep 'berbahasa yang bijak', yaitu menempatkan variasi bahasa sesuai dengan ruang dan konteks komunikasinya.




