EKSPLORASI ISTILAH MATEMATIKA DALAM KOSAKATA BAHASA DAERAH NAGEKEO (BAHASA KEO)
Kata Kunci:
Etnomatematika, Bahasa Keo, Sistem Bilangan, Geometri Budaya, Metode Pengukuran TradisionalAbstrak
Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dan mendokumentasikan istilah-istilah matematika yang terkandung dalam kosakata Bahasa Daerah Nagekeo (Bahasa Keo), Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi artefak budaya, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menemukan empat domain etnomatematika dalam Bahasa Keo, yaitu sistem bilangan berbasis lima untuk angka 6 sampai 9 yang dinyatakan sebagai lima ditambah bilangan pelengkap; konsep geometri pada artefak budaya seperti kain tenun Oba Agi, wadah silinder Po'o Kose, dan tiang adat Peo yang memuat konsep sudut siku-siku dalam ritual Mula Peo; satuan pengukuran tak baku berbasis anggota tubuh (Tepa, Lenga, Jengka, dan Page); serta penerapan empat operasi hitung dasar dalam praktik jual beli kain tenun. Temuan ini menegaskan bahwa masyarakat Nagekeo telah lama mempraktikkan konsep matematika formal tanpa menggunakan istilah matematika baku, sekaligus menunjukkan potensi Bahasa Keo sebagai sumber belajar matematika yang kontekstual dan bermakna.
This study explores and documents mathematical terms embedded in the vocabulary of the Nagekeo local language (Bahasa Keo), Nagekeo Regency, East Nusa Tenggara. Using a qualitative ethnographic approach, data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation of cultural artefacts, then analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The findings reveal four ethnomathematical domains in Bahasa Keo: a quinary-based number system in which numbers six to nine are expressed as five plus a remainder; geometric concepts embedded in cultural artefacts such as the Oba Agi ikat weaving, the cylindrical Po'o Kose container, and the Peo ceremonial pole, which reflects the concept of a right angle in the Mula Peo ritual; non-standard traditional units of measurement based on the human body (Tepa, Lenga, Jengka, and Page); and the application of the four basic arithmetic operations in traditional weaving trade. These findings confirm that the Nagekeo community has long practised formal mathematical concepts without using formal mathematical terminology, and they underline the potential of Bahasa Keo as a contextual and meaningful resource for mathematics learning.




