REPRESENTASI KEDWIBAHASAAN PADA KOLOM KOMENTAR TIKTOK SEBAGAI BENTUK IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT DIGITAL
Kata Kunci:
Alih Kode, Sosiolinguistik, TikTok, Identitas Digital, Masyarakat PostmodernAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi sosiolinguistik alih kode pada kolom komentar TikTok sebagai representasi identitas budaya masyarakat digital yang kian hibrida. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, hasil penelitian mengungkapkan bahwa netizen secara masif menggunakan intra-sentential switching, inter-sentential switching, dan tag switching bukan sekadar sebagai interferensi bahasa, melainkan sebagai strategi komunikasi untuk mengekspresikan emosi mendalam, membangun keakraban sosial, serta menunjukkan prestise intelektual di ruang siber. Fenomena ini membuktikan bahwa masyarakat digital Indonesia saat ini tidak lagi terikat pada satu identitas bahasa tunggal yang kaku, melainkan telah membentuk identitas budaya postmodern yang mampu memadukan unsur lokal dan global secara dinamis demi mencapai efektivitas ekspresi. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi arah pembinaan bahasa Indonesia ke depan agar lebih adaptif, kreatif, dan tetap relevan sebagai instrumen utama dalam berekspresi di tengah derasnya arus globalisasi digital.
This study aims to describe the sociolinguistic forms and functions of code-switching in TikTok comment sections as a representation of the increasingly hybrid cultural identity of the digital community. Using a qualitative descriptive approach, the findings reveal that netizens extensively employ intra-sentential switching, inter-sentential switching, and tag switching not merely as linguistic interference, but as communication strategies to express deep emotions, foster social intimacy, and demonstrate intellectual prestige in cyberspace. This phenomenon demonstrates that Indonesia’s digital society is no longer bound by a single, rigid linguistic identity but has instead formed a postmodern cultural identity capable of dynamically blending local and global elements to achieve expressive effectiveness. These findings have significant implications for the future direction of Indonesian language development, urging it to become more adaptive, creative, and relevant as the primary instrument for self-expression amid the surging tide of digital globalization