JURNAL TAFSIR MAUDHU'I PROGRAM STUDI ILMU AL-QURʼAN DAN TAFSIR UNIVERSITAS AL-QURʼAN AL-ITTIFAQIAH (UQI) INDRALAYA, OGAN ILIR, SUMATERA SELATAN
Kata Kunci:
Artificial Intelligence, Tafsir Al-Qur’an, Bias Algoritma, Epistemologi Tafsir, Otoritas Keagamaan, Islam DigitalAbstrak
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam cara masyarakat mengakses dan memahami informasi keagamaan, termasuk tafsir Al-Qur’an. Berbagai platform berbasis AI kini mampu memberikan penjelasan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an secara cepat dan mudah, sehingga semakin banyak digunakan oleh masyarakat Muslim. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul persoalan mendasar terkait bias algoritma, akurasi penafsiran, serta pergeseran otoritas keagamaan dari ulama dan lembaga keagamaan menuju sistem digital yang tidak memiliki kompetensi keilmuan sebagaimana tradisi tafsir Islam. Kondisi ini menjadikan kajian mengenai hubungan antara bias algoritma dan otoritas keagamaan dalam tafsir berbasis AI penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana bias algoritma memengaruhi proses penyajian tafsir Al-Qur’an oleh AI, serta mengkaji implikasinya terhadap epistemologi tafsir dan otoritas keagamaan di era digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari literatur tentang epistemologi tafsir, studi agama digital, kecerdasan buatan, serta berbagai penelitian terkait penggunaan AI dalam kajian Islam. Analisis dilakukan melalui pendekatan deskriptif-analitis dan kritis untuk mengidentifikasi pola bias algoritma serta dampaknya terhadap konstruksi pengetahuan keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI memiliki kemampuan untuk memperluas akses masyarakat terhadap sumber-sumber tafsir dan meningkatkan literasi keagamaan secara digital. Akan tetapi, sistem AI tidak sepenuhnya bebas dari bias karena dipengaruhi oleh data pelatihan, desain algoritma, dan sumber referensi yang digunakan. Akibatnya, penjelasan yang dihasilkan dapat mengabaikan keragaman pendapat ulama, konteks historis ayat, maupun metodologi tafsir yang kompleks. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap AI berpotensi menggeser otoritas keagamaan tradisional dan menciptakan bentuk baru otoritas digital yang legitimasi keilmuannya masih perlu dikaji secara kritis. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya mengintegrasikan kajian bias algoritma dengan epistemologi tafsir Al-Qur’an dan isu otoritas keagamaan dalam satu kerangka analisis yang komprehensif. Penelitian ini menegaskan bahwa AI sebaiknya diposisikan sebagai instrumen pendukung, bukan pengganti otoritas ilmiah para mufassir. Implikasi kebijakan yang dapat ditawarkan adalah perlunya pengembangan pedoman etika penggunaan AI dalam studi Islam, peningkatan literasi digital keagamaan, serta kolaborasi antara pengembang teknologi, akademisi, dan ulama untuk memastikan bahwa pemanfaatan AI dalam tafsir Al-Qur’an tetap selaras dengan prinsip-prinsip keilmuan Islam yang otoritatif
The rapid development of Artificial Intelligence (AI) has significantly transformed the way people access and understand religious information, including Qur’anic exegesis (tafsir). Various AI-based platforms are now capable of providing explanations of Qur’anic verses quickly and efficiently, leading to their increasing use among Muslim communities. However, behind this convenience lie fundamental issues related to algorithmic bias, interpretive accuracy, and the shifting of religious authority from scholars and religious institutions to digital systems that do not possess the scholarly qualifications embedded within the classical tradition of Qur’anic interpretation. This situation highlights the importance of examining the relationship between algorithmic bias and religious authority in AI-based Qur’anic exegesis. This study aims to analyze how algorithmic bias influences the presentation of Qur’anic interpretation generated by AI and to examine its implications for the epistemology of tafsir and religious authority in the digital age. The research employs a qualitative approach through library research. Data were collected from literature on the epistemology of tafsir, digital religion studies, artificial intelligence, and previous studies concerning the application of AI in Islamic scholarship. The data were analyzed using descriptive-analytical and critical approaches to identify patterns of algorithmic bias and their impact on the construction of religious knowledge. The findings reveal that AI has considerable potential to expand public access to Qur’anic commentaries and enhance digital religious literacy. Nevertheless, AI systems are not entirely free from bias, as their outputs are shaped by training data, algorithmic design, and the sources on which they rely. Consequently, AI-generated interpretations may overlook the diversity of scholarly opinions, the historical contexts of revelation, and the methodological complexities of Qur’anic exegesis. The study also finds that growing dependence on AI has the potential to shift traditional religious authority and generate new forms of digital authority whose scholarly legitimacy remains subject to critical examination. The novelty of this research lies in its integration of algorithmic bias studies with the epistemology of Qur’anic exegesis and the issue of religious authority within a comprehensive analytical framework. The study argues that AI should be positioned as a supportive instrument rather than a substitute for the scholarly authority of Muslim exegetes. Policy implications include the development of ethical guidelines for the use of AI in Islamic studies, the enhancement of digital religious literacy, and the promotion of collaboration among technology developers, academics, and religious scholars to ensure that the application of AI in Qur’anic interpretation remains aligned with authoritative Islamic scholarly principles




