DAMPAK NARKOBA PADA OTAK DAN KESEHATAN MENTAL REMAJA YANG MENGANCAM GENERASI PANCASILA: KENIKMATAN SINGKAT YANG BERUJUNG KETERGANTUNGAN
Kata Kunci:
Adiksi Remaja, Neurobiologi, Generasi Pancasila, Sistem Reward, Imunitas KulturalAbstrak
Krisis penyalahgunaan narkotika pada segmen usia remaja di Indonesia bukan sekadar persoalan hukum, melainkan ancaman eksistensial terhadap arsitektur saraf dan integritas karakter bangsa. Penelitian ini bertujuan mensintesis korelasi antara mekanisme neurobiologis adiksi dengan degradasi nilai-nilai Generasi Pancasila. Menggunakan metodologi studi literatur kualitatif dengan desain sintesis naratif, kajian ini menelusuri transisi patologis dari fase "kenikmatan singkat" akibat lonjakan dopaminergik menuju kondisi hypodopaminergic yang kronis. Hasil analisis menunjukkan bahwa pembajakan sirkuit reward mesolimbik pada otak remaja yang belum matang menyebabkan kerusakan fungsi eksekutif, yang secara langsung melumpuhkan kedaulatan diri dan martabat kemanusiaan. Fenomena adiksi ini menghambat internalisasi nilai Pancasila, khususnya Sila Ketuhanan dan Kemanusiaan, melalui erosi moralitas dan tanggung jawab sosial. Studi ini menyimpulkan bahwa penanggulangan narkoba harus mengintegrasikan intervensi klinis dual-diagnosis dengan penguatan imunitas kultural berbasis kearifan lokal untuk memulihkan martabat generasi muda Indonesia.
The narcotic abuse crisis among adolescents in Indonesia represents more than a legal predicament; it is an existential threat to neural architecture and national character integrity. This study aims to synthesize the correlation between the neurobiological mechanisms of addiction and the degradation of "Pancasila Generation" values. Utilizing a qualitative literature study with a narrative synthesis design, this research traces the pathological transition from the "brief pleasure" phase induced by dopaminergic surges to a chronic hypodopaminergic state. The analysis reveals that the hijacking of mesolimbic reward circuits in the immature adolescent brain leads to executive function impairment, directly paralyzing self-sovereignty and human dignity. This addiction phenomenon obstructs the internalization of Pancasila values, particularly the Divine and Humanitarian principles, through the erosion of morality and social responsibility. The study concludes that drug countermeasures must integrate dual-diagnosis clinical interventions with the strengthening of cultural immunity based on local wisdom to restore the dignity of Indonesia’s younger generation.




