TARI MAEKAT SEBAGAI EKSPRESI IDENTITAS BUDAYA LOKAL DAN MEDIA PELESTARIAN NILAI TRADISI MASYARAKAT ADAT

Penulis

  • Junias Selan Institut Agama Kristen Negeri Kupang
  • Ivoni Christin Nomleni Institut Agama Kristen Negeri Kupang
  • Ledi Kristin Elly Institut Agama Kristen Negeri Kupang
  • Keren Hapukh Hupi Rohi Kana Institut Agama Kristen Negeri Kupang
  • Yenry Anastasia Pellondou Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Kata Kunci:

Tarian, Maekat, Pulau Timor, Adat Dan Budaya,Tradisional

Abstrak

Tari Maekat adalah sebuah tarian tradisional yang berasal dari masyarakat Suku Dawan (Atoni Meto atau Pah Meto) di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, khususnya di kawasan Amanuban, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Tarian ini muncul dari tradisi konflik antar kerajaan di masa lalu, yang sering kali disebabkan oleh pelanggaran norma atau tindakan kriminal, di mana tanah dianggap sebagai simbol utama kehormatan suku yang berarti "orang dari tanah kering.Secara filosofi, Tari Maekat merepresentasikan keberanian, semangat untuk berjuang, rasa syukur atas kemenangan dalam pertempuran, serta penghormatan terhadap nenek moyang. Gerakannya dipengaruhi oleh sosok elang yang perkasa, dengan dua pola utama: Kolteme (gerakan menyerang) dan Kolisu (gerakan bertahan), di mana penari—biasanya laki-laki berpasangan atau dalam kelompok genap—berhadapan seolah-olah sedang berduel di medan perang. Mereka saling menghadang, melangkah pelan sambil menjaga keseimbangan tubuh seperti sayap elang yang terbentang, sampai salah satu dianggap "kalah. "Iringan musik yang mengiringi terdiri dari gong, tambur, dan sorakan semangat, dengan tempo yang dimulai lambat, kemudian cepat di bagian tengah, dan kembali melambat di akhir; seringkali diiringi dengan doa dari perempuan. Pakaian yang dikenakan penari terdiri dari kain tenun Timor yang berfungsi sebagai mahkota kepala, sarung, kalung, serta kostum tradisional di badan dan kaki.Saat ini, fungsinya telah berkembang menjadi hiburan, sosial, ekonomi, dan pendidikan, ditampilkan dalam acara penyambutan tamu, perayaan adat, serta sebagai sarana untuk mendidik generasi muda tentang nilai-nilai estetika, etika, filosofi, dan sosiokultural. Meskipun sudah dikenal luas di Pulau Timor (termasuk variasi seperti Makafo? di Amanatun), Tari Maekat tetap terjaga keberadaannya sebagai warisan suku Dawan, memperkuat ikatan persaudaraan setelah konflik.

The Maekat Dance is a traditional dance originating from the Dawan (Atoni Meto or Pah Meto) tribe on Timor Island, East Nusa Tenggara, specifically in the Amanuban area of South Central Timor Regency. This dance emerged from the tradition of inter-kingdom conflict in the past, often caused by violations of norms or criminal acts, where land was considered a primary symbol of tribal honor, meaning "people of the dry land." Philosophically, the Maekat Dance represents courage, the spirit of struggle, gratitude for victory in battle, and respect for ancestors. Its movements are influenced by the figure of a mighty eagle, with two main patterns: Kolteme (attacking movements) and Kolisu (defensive movements), in which the dancers—usually male in pairs or even groups—face each other as if dueling on a battlefield. They block each other, stepping slowly while maintaining their body balance like an eagle's outstretched wings, until one is deemed "defeated." The accompanying music consists of gongs, drums, and enthusiastic cheers, with a tempo that starts slowly, speeds up in the middle, and slows down again at the end; often accompanied by prayers from women. The dancers' attire consists of Timorese woven cloth that serves as a crown, sarongs, necklaces, and traditional costumes for the body and feet. Today, its functions have evolved into entertainment, social, economic, and educational performances, performed at welcoming guests and traditional celebrations, and as a means of educating the younger generation about aesthetic, ethical, philosophical, and sociocultural values. Although widely known on Timor Island (including variations such as Makafo? i in Amanatun), the Maekat Dance remains a Dawan heritage, strengthening bonds of brotherhood after the conflict.

Unduhan

Diterbitkan

2026-01-30