ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN KEPUTUSAN MAHASISWA PERBANKAN SYARIAH UIN SJECH M. DJAMIL DJAMBEK BUKITTINGGI ANGKATAN 2021 DALAM MENGGUNAKAN ARISAN ONLINE MENURUT PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM

Penulis

  • Arfan Surya Syaputra Universitas IsIam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
  • Ismail Universitas IsIam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Kata Kunci:

Keputusan, Mahasiswa, Arisan Online, Ekonomi Islam

Abstrak

Arisan online telah menjadi fenomena yang berkembang pesat pada kalangan mahasiswa, termasuk pada Prodi Perbankan Syariah UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan arisan online menjadikannya pilihan populer sebagai alat menabung dan memenuhi kebutuhan finansial, terutama karena tantangan dalam menabung secara mandiri dan keinginan untuk mengontrol pengeluaran. Namun, praktik arisan online ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai kesesuaiannya dengan prinsip Ekonomi Islam, khususnya terkait adanya denda dan uang administrasi yang berpotensi mengandung unsur riba. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan mahasiswa Prodi Perbankan Syariah UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi angkatan 2021 dalam menggunakan arisan online, serta meninjau pandangan Ekonomi Islam terhadap keputusan tersebut. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) yaitu mencari data langsung ke lapangan dengan melihat dari dekat objek penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang menghubungkan teori dengan fakta menggunakan sumber data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi serta metode analisis data yaitu menggunakan reduksi data, penyajian data (display data), dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini melibatkan wawancara dengan 15 mahasiswa sebagai informan kunci.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal, seperti motivasi dan persepsi, lebih dominan memengaruhi keputusan mahasiswa dibandingkan faktor eksternal seperti pengaruh sosial dan budaya. Mahasiswa memandang arisan online sebagai solusi efektif untuk menabung dan memenuhi kebutuhan, serta menganggap uang administrasi dan denda sebagai hal yang wajar untuk kelancaran sistem.Dalam perspektif Ekonomi Islam, arisan online secara umum dianggap boleh (mubah) karena didasarkan pada prinsip tolong-menolong (ta'awun) dan tidak mengandung unsur riba, gharar, atau maysir, asalkan kesepakatan dipatuhi. Konsep-konsep ekonomi Islam seperti keberkahan, konsumsi sosial, dan kemanfaatan juga terpenuhi dalam praktik ini. Namun, pada arisan online terdapat aspek denda yang dikenakan untuk anggota arisan karena keterlambatan pembayaran yang berpotensi dikategorikan sebagai riba jahiliyah, yang diharamkan dalam Islam. Oleh karena itu, mekanisme denda perlu diperbaiki agar sesuai dengan prinsip kebersihan (thaharah) dalam Ekonomi Islam, misalnya dengan menyalurkan denda untuk kepentingan umum. Penelitian ini memberikan wawasan tentang perilaku ekonomi mahasiswa dalam konteks digital dan relevansinya dengan prinsip-prinsip syariah.

Online arisan (social savings and credit) has become a rapidly growing phenomenon among students, including those in the Islamic Banking Study Program at UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. The convenience and practicality offered by online arisan make it a popular choice for saving and meeting financial needs, especially given the challenges of saving independently and the desire to control spending. However, this online arisan practice also raises questions about its compliance with Islamic Economic principles, particularly regarding fines and administration fees that potentially contain elements of usury. This study aims to analyze the factors influencing the decision of students in the Islamic Banking Study Program at UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, class of 2021, to use online arisan and to review Islamic Economics' perspectives on this decision. This study used field research, namely gathering data directly in the field by closely observing the research object. The method used in this study is a qualitative descriptive approach that connects theory with facts using primary and secondary data sources. Data collection methods include interviews, observation, and documentation. Data analysis methods include data reduction, data presentation (data display), and drawing conclusions. This study involved interviews with 15 university students as key informants. The results showed that internal factors, such as motivation and perception, were more dominant in influencing student decisions than external factors such as social and cultural influences. Students viewed online arisan (society) as an effective solution for saving and meeting needs, and considered administration fees and fines to be normal for the smooth running of the system. From an Islamic economic perspective, online arisan is generally considered permissible (mubah) because it is based on the principle of mutual assistance (ta'awun) and does not contain elements of usury, gharar, or maysir, as long as the agreement is adhered to. Islamic economic concepts such as blessing, social consumption, and benefit are also fulfilled in this practice. However, online arisan includes fines imposed on members for late payments, which could potentially be categorized as usury of the Jahiliyah (pre-Islamic) and is forbidden in Islam. Therefore, the fine mechanism needs to be improved to align with the principle of cleanliness (thaharah) in Islamic economics, for example by channeling fines for the public good. This research provides insight into students' economic behavior in the digital context and its relevance to sharia principles.

Unduhan

Diterbitkan

2026-04-29