TRADISI MAMBALIAKKAN PAMBAWOAN WALIMATUL ‘URSY PADA MASYARAKAT NAGARI LADANG PANJANG BARAT KECAMATAN TIGO NAGARI DALAM PERSPEKTIF MAQASYID SYARI’AH
Kata Kunci:
Tradisi, Mambaliakkan Pambawoan, Maqasyid Syari’ahAbstrak
Skripsi ini berjudul “Tradisi Mambaliakkan Pambawoan Walimatul ‘Ursy pada Masyarakat Nagari ladang Panjang Barat Kecamatan Tigo Nagari Dalam Perspektif Maqasyid Syari’ah”, yang ditulis oleh Satrio Rinaldi, dengan NIM 1121081, Program Studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Syariah Universitas Islam Negri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Skripsi ini dilatar belakangi adanya tradisi mambaliakkan pambawoan pada pesta pernikahan di Nagari Ladang Panjang Barat, karna di dalam syari’ah Islam tidak ada dalil atau perintah untuk membawa Pambawoan atau sumbangan serta mengembalikannya pambawoan tersebut. Adapun tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan Tradisi Mambaliakkan Pambawoan di Nagari Ladang Panjang Barat Kecamatan Tigo Nagari dilihat dari pandangan maqasyid syari’ah. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang bersifat kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung di lapangan dan wawancara dengan informan, penelitian yang terdiri dari tokoh adat, tokoh agama, ninik mamak, dan masyarakat setempat selaku sumber data primer. Sedangkan sumber data sekunder yang penulis gunakan dalam hal ini berupa buku, jurnal serta literatur yang berhubungan dengan penelitian, lalu melakukan teknik analisis data dengan telaah data, reduksi data, penyusunan satuan, kategorisasi dan penafsiran data. Berdasarkan hasil penelitian terhadap Tradisi Mambaliakkan Pambawoan dalam walimatul ursy di Nagari Ladang Panjang Barat, Kecamatan Tigo Nagari, adalah membalas sumbangan pada pesta pernikahan merupakan suatu bentuk tradisi gotong royong dalam masyarakat Minangkabau di Nagari Ladang Panjang Barat. Tujuan tradisi ini membantu meringankan beban ekonomi keluarga yang mengadakan hajatan atau modal hajatan pernikahan, dan juga sabagai sarana dalam mendapatkan keuntungan ekonomi. dalam perspektif Maqashid Syariah, Tradisi mambaliakkan pambawoan merupakan praktik yang mengandung banyak kemaslahatan dan sejalan dengan hukum Islam bahwa tradisi ini urf shohih, yang mendukung nilai-nilai agama seperti (adanya saling membantu, nilai-nilai gotong royong, menjaga silaturahmi), mendapatkan keuntungan ekonomi serta perputaran harta yang bermanfaat dalam Masyarakat Nagari Ladang Panjang Barat.
This thesis is titled “The Tradition of Mambaliakkan Pambawoan Walimatul 'Ursy in the Community of Nagari Ladang Panjang Barat, Tigo Nagari District, from the Perspective of Maqasyid Syari'ah,” written by Satrio Rinaldi, with student ID number 1121081, Islamic Family Law Program (Ahwal Syakhshiyyah) Faculty of Sharia, State Islamic University (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. This thesis is motivated by the tradition of mambaliakkan pambawoan at weddings in Nagari Ladang Panjang Barat, because in Islamic law there is no argument or command to bring pambawoan or donations and return them. The purpose of this study is to understand how the tradition of mambaliakkan pambawoan is practiced in Nagari Ladang Panjang Barat, Tigo Nagari District, from the perspective of maqasyid syari'ah. Based on research into the Mambaliakkan Pambawoan tradition in walimatul ursy in Nagari Ladang Panjang Barat, Tigo Nagari District, repaying contributions at wedding parties is a form of mutual cooperation tradition in the Minangkabau community in Nagari Ladang Panjang Barat, where everyone invited to the walimah ursy event brings contributions in the form of cloth, money, gifts, gold, goods, or other forms of assistance as a manifestation of social solidarity. The purpose of this tradition is to help alleviate the economic burden on the family hosting the wedding or wedding ceremony, as well as to serve as a means of obtaining economic benefits. From the perspective of Maqashid Syariah, the mambaliakkan pambawoan tradition is a practice that contains many benefits and aligns with Islamic law, as it is a valid custom (urf shohih) that supports religious values such as mutual assistance, cooperative values, maintaining social ties, economic benefits, and the beneficial circulation of wealth within the community of Nagari Ladang Panjang Barat.




