FENOMENA TAWURAN REMAJA JAKARTA TIMUR YANG DIPICU KONTEN MEDIA SOSIAL: PERSPEKTIF EKOLOGI BUDAYA
Kata Kunci:
Ekologi Budaya, Tawuran Remaja, Media Sosial, Budaya Digital, JakartaAbstrak
Penelitian ini membahas fenomena tawuran remaja di Jakarta yang dipicu oleh penggunaan media sosial dalam perspektif ekologi budaya. Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah pola interaksi sosial remaja dari ruang sosial nyata menuju ruang virtual. Media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga digunakan sebagai media provokasi, tantangan antarkelompok, hingga glorifikasi kekerasan yang memicu tawuran remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara budaya digital dan perubahan perilaku sosial remaja Jakarta serta dampaknya terhadap nilai sosial masyarakat perkotaan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur melalui analisis berita, jurnal, dan dokumentasi digital terkait tawuran remaja di Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instagram, TikTok, dan platform digital lainnya menjadi media penyebaran ajakan tawuran, pembentukan identitas kelompok, serta sarana mencari pengakuan sosial di kalangan remaja. Selain itu, lingkungan perkotaan yang individualistis, rendahnya pengawasan keluarga, dan tingginya intensitas penggunaan media sosial memperkuat perubahan budaya sosial remaja. Dalam perspektif ekologi budaya, perubahan lingkungan teknologi memengaruhi pola perilaku dan nilai sosial generasi muda sehingga memunculkan bentuk interaksi sosial baru yang cenderung mengarah pada perilaku agresif dan kekerasan kelompok. Oleh karena itu, diperlukan penguatan literasi digital, pengawasan penggunaan media sosial, serta revitalisasi nilai sosial dan budaya di lingkungan remaja untuk menekan fenomena tawuran di Jakarta.
This study examines the phenomenon of juvenile brawls in Jakarta triggered by social media use from the perspective of cultural ecology. The development of digital technology and social media has transformed adolescents’ patterns of social interaction from real social spaces to virtual spaces. Social media functions not only as a means of communication but also as a medium for provocation, intergroup challenges, and the glorification of violence that can trigger juvenile delinquency and street fights. This research aims to analyze the relationship between digital culture and changes in the social behavior of adolescents in Jakarta, as well as its impact on urban social values. The study employs a descriptive qualitative method with a literature study approach through the analysis of news reports, academic journals, and digital documentation related to juvenile brawls in Jakarta. The findings indicate that Instagram, TikTok, and other digital platforms have become media for spreading invitations to brawls, forming group identities, and seeking social recognition among adolescents. In addition, urban individualism, lack of family supervision, and the high intensity of social media use further reinforce changes in adolescents’ social culture. From the perspective of cultural ecology, changes in the technological environment influence the behavioral patterns and social values of the younger generation, leading to new forms of social interaction that tend to promote aggressive behavior and group violence. Therefore, strengthening digital literacy, monitoring social media use, and revitalizing social and cultural values within adolescent environments are necessary to reduce the phenomenon of juvenile brawls in Jakarta.




