ANALISIS BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN (BOK) ANGKUTAN MINIBUS PADA RUTE ENREKANG–MAKASSAR
Kata Kunci:
Biaya Operasional Kendaraan, Minibus, Trayek Enrekang–Makassar, Biaya Tidak Tetap, Revealed PreferenceAbstrak
Sektor transportasi memiliki peran strategis dalam mendukung pergerakan masyarakat antarkota, termasuk pergerakan antara Kota Enrekang dan Kota Makassar yang berjarak kurang lebih 211 km. Minibus menjadi salah satu pilihan moda yang banyak digunakan oleh masyarakat karena dianggap memiliki kecepatan dan efisiensi yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya Biaya Operasional Kendaraan pada angkutan minibus trayek Enrekang–Makassar serta mengidentifikasi komponen biaya tidak tetap yang dominan. Metode yang digunakan adalah survei lapangan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan teknik Revealed Preference, di mana data primer dikumpulkan melalui wawancara pengemudi serta pengukuran langsung kondisi lalu lintas dan geometrik jalan. Analisis BOK mengikuti pedoman RSNI Perhitungan BOK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total BOK pada kecepatan rata-rata 52 km/jam adalah Rp6.998,02/km, yang terdiri atas biaya tidak tetap sebesar Rp6.109,84/km dan biaya tetap sebesar Rp888,18/km. Komponen biaya tidak tetap didominasi oleh biaya upah tenaga pemeliharaan (Rp4.786,55/km atau 68,4% dari total BOK), diikuti oleh biaya konsumsi BBM Rp889,00/km (12,7%), biaya suku cadang Rp350,18/km (5,0%), biaya ban Rp56,10/km (0,8%), dan biaya oli mesin Rp28,01/km (0,4%). Kinerja ruas Jalan Jenderal Sudirman pada jam sibuk sore hari mencapai derajat kejenuhan 0,64 dengan tingkat pelayanan C. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi efisiensi biaya paling efektif adalah menekan komponen upah pemeliharaan melalui penjadwalan servis yang lebih terkontrol, serta mengantisipasi kemacetan lalu lintas yang meningkatkan konsumsi BBM.
The transportation sector plays a strategic role in supporting intercity mobility, including movement between Enrekang City and Makassar City, approximately 211 km apart. Minibuses are widely used by the public as a fast and adequate mode of transport. This study aims to analyze the Vehicle Operating Cost (VOC/BOK) of minibus transportation on the Enrekang–Makassar route and to identify the dominant variable cost components. The study employed a field survey with a quantitative approach using the Revealed Preference technique, with primary data collected through driver interviews and direct measurements of traffic conditions and road geometry. The BOK analysis was performed in accordance with the RSNI Calculation Guidelines for Vehicle Operating Costs. The results show that the total BOK at an average speed of 52 km/h is IDR 6,998.02/km, comprising variable costs of IDR 6,109.84/km and fixed costs of IDR 888.18/km. The variable cost component is dominated by maintenance labor costs (IDR 4,786.55/km or 68.4% of total BOK), followed by fuel consumption costs IDR 889.00/km (12.7%), spare parts IDR 350.18/km (5.0%), tires IDR 56.10/km (0.8%), and engine oil IDR 28.01/km (0.4%). The performance of Jenderal Sudirman Road during the peak afternoon hour reaches a degree of saturation of 0.64 with Level of Service C. These findings suggest that the most effective cost-efficiency strategy is to control the maintenance labor component through more disciplined servicing schedules, whilst anticipating traffic congestion that tends to increase fuel consumption.




