SAKRALITAS MALAM SATU SURO DI GUNUNG LAWU: KAJIAN SEMIOTIKA BUDAYA ATAS MISTISISME, SPIRITUALITAS, DAN SIMBOL PASAR GAIB DI JALUR CEMORO SEWU

Penulis

  • Athallariqa Yusrasendria Hafidzah Universitas Sebelas Maret
  • Suryo Ediyono Universitas Sebelas Maret

Kata Kunci:

Malam Satu Suro, Gunung Lawu, Cemoro Kandang, Mistisisme Jawa, Pasar Gaib, Semiotika Budaya

Abstrak

Tradisi peringatan Malam Satu Suro di Gunung Lawu merupakan salah satu manifestasi spiritualitas Jawa yang paling kompleks dan penuh lapisan makna simbolik. Kawasan Gunung Lawu, terutama jalur pendakian Cemoro Kandang, menjadi pusat penziarahan mistik yang menyatukan elemen ritual, mitos, dan pengalaman religius masyarakat. Setiap tahun, pada malam pergantian bulan Suro, ratusan peziarah melakukan perjalanan hening, tirakatan, dan laku spiritual di lereng Lawu, dengan keyakinan bahwa malam tersebut merupakan waktu paling sakral untuk penyucian batin dan penyelarasan diri dengan alam semesta. Fenomena pasar gaib yang diyakini muncul di sekitar Cemoro kandang dipandang sebagai representasi simbolik dunia tak kasat mata, tempat bertemunya dimensi manusia dan makhluk halus, sekaligus penegasan akan batas sakral antara dunia lahir dan batin. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika budaya dengan berbasis studi literatur yang menelaah berbagai sumber tertulis, seperti naskah-naskah Jawa kuno, karya sastra, catatan etnografis, dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan. Melalui kajian teks dan interpretasi simbolik, penelitian ini menafsirkan tanda, simbol, dan mitos yang muncul dalam tradisi Malam Satu Suro di Gunung Lawu guna memahami makna spiritual di balik praktik-praktik kejawen tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa Gunung Lawu berfungsi bukan hanya sebagai ruang geografis, tetapi juga sebagai medan spiritual yang menghadirkan komunikasi simbolik antara manusia dan kekuatan adikodrati. Ritual-ritual seperti topo bisu, jamasan pusaka, dan perjalanan malam melalui Cemoro Kandang menjadi bentuk ekspresi mistisisme yang meneguhkan identitas religius masyarakat Jawa. Tradisi ini menggambarkan cara masyarakat menjaga hubungan harmonis dengan alam, leluhur, dan tuhan, serta meneguhkan kembali nilai kejawen yang berpadu dengan spiritualitas lokal.

Unduhan

Diterbitkan

2026-04-25